fin.co.id - Pemimpin Hizbullah Lebanon, Naim Qassem, menegaskan bahwa kelompoknya siap untuk konfrontasi panjang dengan Israel. Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah, setelah Hizbullah menyerang Israel pasca tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
"Kami telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi panjang, dan insya Allah, mereka (Israel) akan terkejut di medan perang," kata Qassem, Sabtu, 14 Maret 2026.
Ini merupakan pidato keduanya di televisi, sejak perang terbaru dimulai. "Ini adalah pertempuran eksistensial, bukan pertempuran yang terbatas atau sederhana," lanjutnya.
Sikap Hizbullah bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah Lebanon. Awal pekan ini, Presiden Lebanon, Joseph Aoun menawarkan untuk bernegosiasi langsung dengan Israel, meski belum menerima tanggapan.
Serangan Israel Hancurkan Infrastruktur Jembatan
Militer Israel dilaporkan telah menghancurkan jembatan di atas Sungai Litani antara kota Zrariyeh dan Tayr Falsay, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon yang dikelola pemerintah. Sungai tersebut membelah Lebanon selatan, dari timur ke barat.
Dalam sebuah pernyataan, militer Israel menggambarkan jembatan itu sebagai "penyeberangan kunci" bagi Hizbullah "dari Lebanon utara ke selatan, untuk membangun kekuatan dan mempersiapkan diri untuk pertempuran".
Serangan itu adalah serangan pertama terhadap infrastruktur publik Lebanon yang diakui oleh Israel sejak dimulainya perang Timur Tengah.
"Ini baru permulaan dan pemerintah Lebanon dan negara Lebanon akan membayar harga yang semakin mahal berupa kerusakan pada infrastruktur nasional Lebanon yang digunakan oleh teroris Hizbullah," kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Ia mengatakan Lebanon akan menderita "kehilangan wilayah - sampai memenuhi komitmen utamanya untuk melucuti senjata Hizbullah".