Ketahanan Energi Terancam Konflik Global! PUSKEPI Peringatkan Risiko Selat Hormuz, Percepatan Elektrifikasi Jadi Harga Mati?

news.fin.co.id - 16/03/2026, 18:24 WIB

Ketahanan Energi Terancam Konflik Global! PUSKEPI Peringatkan Risiko Selat Hormuz, Percepatan Elektrifikasi Jadi Harga Mati?

Konflik global ancam pasokan minyak & LPG lewat Selat Hormuz. Cek solusi percepatan elektrifikasi dari pengamat energi Sofyano Zakaria di sini!

fin.co.id - Hati-hati, sobat energi! Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran ternyata bukan cuma urusan berita luar negeri saja. Konflik panas ini berpotensi besar memicu krisis energi yang nyata di depan mata kita. Mengapa? Karena jalur vital Selat Hormuz terancam terganggu, padahal lewat situlah pasokan minyak dan LPG impor yang kita gunakan sehari-hari mengalir.

Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintah sudah mulai menyuarakan kewaspadaan tinggi. Jalur distribusi energi paling penting di dunia tersebut sedang berada dalam risiko militer yang tinggi. Jika pasokan terhambat, ketahanan energi nasional kita bisa goyang dalam sekejap. Jangan sampai kita terlambat bersiap sebelum harga energi meroket atau barang jadi langka!

Program Elektrifikasi: Solusi Strategis atau Sekadar Tren?

Melihat ancaman ini, Direktur Puskepi, Sofyano Zakaria, menilai percepatan program elektrifikasi nasional sebagai langkah cerdas dan berani dari Presiden. Namun, ia mengingatkan bahwa ide besar ini butuh desain yang matang agar tidak berantakan di tengah jalan. Kita punya modal besar, yaitu kapasitas listrik yang melimpah alias over supply, yang seharusnya bisa kita pakai untuk mengurangi ketergantungan pada barang impor.

Advertisement

Pemanfaatan listrik nasional bisa menjadi senjata utama untuk menyerap kelebihan pasokan listrik di sektor rumah tangga dan transportasi. Selain itu, Indonesia masih punya stok batu bara domestik yang besar sebagai cadangan strategis jika konflik di Timur Tengah benar-benar menutup keran distribusi global.

“Program elektrifikasi memang menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Namun bentuk dan skema implementasinya perlu dikaji secara mendalam agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan,” ungkap Sofyano Zakaria.

Kritik Pedas Konversi Motor Listrik: Masyarakat Masih Harus Nombok?

Meski mendukung elektrifikasi, Sofyano memberikan catatan kritis terhadap rencana Kementerian ESDM soal insentif konversi motor bensin ke listrik. Ia menilai kebijakan ini kurang masuk akal bagi kantong masyarakat kecil. Kenapa? Karena biaya konversi ternyata jauh lebih mahal daripada subsidi yang diberikan pemerintah.

Bayangkan saja, motor tua yang harga jualnya sudah jatuh, dipaksa konversi dengan biaya tinggi. Tentu ini tidak efisien secara ekonomi. Sebagai solusinya, pemerintah disarankan lebih fokus memberikan diskon besar untuk pembelian unit motor listrik baru daripada memaksakan konversi kendaraan lama yang sudah tidak bernilai tinggi.

Kompor Listrik vs LPG: Langkah Nyata Kurangi Impor

Salah satu terobosan yang paling mungkin dilakukan sekarang adalah mendorong penggunaan kompor listrik di dapur-dapur kita. Langkah ini dianggap jauh lebih efektif untuk menggantikan LPG yang bahan bakunya masih kita datangkan dari luar negeri. Dengan beralih ke kompor listrik, kita tidak hanya menghemat devisa negara, tapi juga mengoptimalkan penggunaan listrik nasional yang saat ini melimpah ruah.

Elektrifikasi seharusnya bukan cuma reaksi panik karena ada perang di luar sana. Ini harus menjadi strategi jangka panjang untuk mewujudkan kedaulatan energi nasional yang mandiri dan berkelanjutan. Indonesia harus kuat dan tidak boleh terus-menerus didikte oleh dinamika geopolitik global yang tidak menentu. (*)

Advertisement
Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID