fin.co.id - Memasuki fase paling istimewa di bulan suci Ramadan, pertanyaan tentang kapan datangnya Lailatul Qadar kembali ramai diperbincangkan.
Banyak umat Islam meyakini malam ke-27 sebagai waktu paling kuat terjadinya malam penuh kemuliaan tersebut. Namun, benarkah malam ini adalah Lailatul Qadar?
Untuk menjawabnya, kita bisa merujuk pada pandangan ulama besar, Imam Al-Ghazali, yang memiliki metode unik dalam memperkirakan datangnya malam tersebut.
Keutamaan Lailatul Qadar, Malam Lebih Baik dari 1000 Bulan
Lailatul Qadar merupakan malam paling mulia dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa ibadah pada malam ini nilainya lebih baik dari seribu bulan atau setara lebih dari 83 tahun.
Keistimewaan ini menjadikan Lailatul Qadar sebagai momen yang sangat dinantikan, karena menjadi kesempatan luar biasa untuk meraih pahala, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT.
Teladan Nabi Muhammad di 10 Malam Terakhir
Rasulullah SAW, Nabi Muhammad, memberikan contoh nyata bagaimana menyambut malam-malam terakhir Ramadan. Beliau meningkatkan ibadah secara maksimal, melakukan i’tikaf, serta membangunkan keluarga untuk ikut beribadah.
Amalan seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa menjadi kunci untuk meraih Lailatul Qadar.
Rumus Imam Al-Ghazali: Cara Memperkirakan Lailatul Qadar
Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab I’anatut Thalibin, malam Lailatul Qadar bisa diperkirakan berdasarkan hari pertama Ramadan.
Berikut kaidahnya:
- Awal Ramadan Ahad atau Rabu → kemungkinan malam ke-29
- Awal Ramadan Senin → malam ke-21
- Awal Ramadan Selasa atau Jumat → malam ke-27
- Awal Ramadan Kamis → malam ke-25
- Awal Ramadan Sabtu → malam ke-23
Pendapat ini juga diamalkan oleh ulama sufi besar, Abu al-Hasan al-Shadhili, yang menyatakan bahwa ia kerap menemukan Lailatul Qadar sesuai pola tersebut.