Setelah kegaduhan meluas, pelaku sempat mengunggah klarifikasi tertulis yang menyatakan penyesalan mendalam.
"Saya menyadari dan mengakui bahwa apa yang telah saya tulis memanglah tidak benar. Bahasa yang telah saya pakai sangatlah tidak pantas. Apabila kata-kata saya menyakiti saudara semua, dari lubuk hati yang paling dalam saya memohon maaf," tulis sang pegawai dalam permintaan maafnya.
Ia mengakui perilaku tersebut sangat tidak etis dan telah mencoreng nama baik SPPG yang seharusnya memberikan pelayanan prima.
Menurutnya, kejadian ini akan dijadikan bahan evaluasi total terhadap Standard Operating Procedure (SOP) perilaku relawan di lapangan.
"Harapannya seluruh SPPG di Kabupaten Purbalingga dapat meningkatkan SOP supaya memberikan pelayanan yang prima," imbuhnya.
Kasus ini menambah daftar panjang pelayan publik yang tumbang akibat tidak mampu menjaga etika di ruang digital.