fin.co.id - Kabar besar datang dari kerja sama pertahanan Indonesia dan Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan dikabarkan siap mengekspor 16 unit jet tempur canggih KF-21 Boramae ke Indonesia.
Jika kesepakatan ini benar-benar terealisasi, maka ini akan menjadi penjualan luar negeri pertama dari jet tempur kebanggaan Negeri Ginseng tersebut.
Langkah ini pun langsung menyita perhatian dunia, terutama karena melibatkan proyek strategis yang sudah lama digarap bersama oleh kedua negara.
Kesepakatan penting ini direncanakan akan difinalisasi dalam kunjungan kenegaraan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, ke Seoul.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo dijadwalkan bertemu Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, pada periode 31 Maret hingga 2 April 2026.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama strategis kedua negara, khususnya di sektor pertahanan dan teknologi militer.
Jet tempur KF-21 Boramae merupakan proyek ambisius Korea Selatan yang mulai dikembangkan sejak 2015.
Tujuan utama pengembangan jet ini adalah untuk menggantikan armada lama seperti F-4 dan F-5 yang sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan perang modern.
KF-21 sendiri digadang-gadang sebagai jet tempur generasi 4.5 yang memiliki kemampuan supersonik, teknologi radar canggih, serta kemampuan tempur udara-ke-udara dan udara-ke-darat.
Menariknya, pada Januari 2026, jet ini telah berhasil menyelesaikan uji terbang tanpa kecelakaan—sebuah pencapaian besar yang meningkatkan kepercayaan pasar internasional.
Indonesia bukanlah pemain baru dalam proyek ini. Sejak awal, Indonesia telah menjadi mitra pengembangan dengan komitmen pendanaan sekitar 20 persen dari total biaya proyek.
Sebagai imbalannya, Indonesia mendapatkan akses transfer teknologi dari Korea Selatan, yang menjadi nilai strategis dalam penguatan industri pertahanan nasional.
Namun dalam perjalanannya, Indonesia sempat mengalami kendala pembayaran dan mengajukan renegosiasi.
Pada akhirnya, kedua negara sepakat menurunkan kontribusi Indonesia menjadi sekitar 600 miliar won atau setara Rp6,8 triliun, dengan penyesuaian pada tingkat transfer teknologi.