fin.co.id - Momen libur Lebaran seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi penderita penyakit autoimun. Perubahan pola makan, aktivitas fisik yang padat, hingga kurangnya waktu istirahat berpotensi besar memicu kekambuhan gejala yang mengganggu kenyamanan beribadah dan bersilaturahmi.
Staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Anshari Saifuddin Hasibuan, menjelaskan bahwa autoimun merupakan kondisi saat sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sehat sendiri. Beberapa jenis yang umum ditemui di masyarakat antara lain lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, hingga penyakit tiroid seperti Hashimoto dan Graves’ disease.
"Walaupun penyakit autoimun belum dapat sembuh sepenuhnya, pasien tetap dapat mengendalikan kondisi ini dengan baik agar bisa menikmati momen Idulfitri bersama keluarga," ujar Anshari mengutip laman resmi UI, Sabtu (21/3).
Anshari mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang kerap muncul selama libur panjang. Lonjakan konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam menjadi pemicu utama peradangan. Selain itu, meningkatnya stres akibat aktivitas sosial yang tinggi serta kelalaian dalam mengonsumsi obat seringkali memperburuk keadaan.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pengelolaan penyakit secara menyeluruh melalui terapi farmakologis. Pasien harus disiplin mengikuti anjuran dokter, termasuk penggunaan obat antiinflamasi, kortikosteroid untuk menekan peradangan, hingga obat imunosupresan.
"Pastikan ketersediaan obat mencukupi selama masa libur dan jangan sesekali mengubah dosis tanpa konsultasi medis. Gunakan alarm pengingat agar jadwal minum obat tidak terlewat di tengah kesibukan Lebaran," tegasnya.
Selain obat-obatan, pengaturan gaya hidup menjadi fondasi penting dalam menjaga kestabilan kondisi tubuh. Anshari menganjurkan masyarakat untuk tetap memprioritaskan pola makan seimbang dengan memperbanyak sayur dan buah. Cairan yang cukup juga sangat vital untuk mendukung fungsi organ secara optimal.
Kualitas tidur pun tidak boleh luput dari perhatian. Penderita autoimun memerlukan istirahat sekitar 7–8 jam per malam guna menjaga keseimbangan sistem imun. Jika jadwal silaturahmi sangat padat, pasien sebaiknya menyisipkan istirahat singkat di sela aktivitas untuk mencegah kelelahan berlebih.
Manajemen Stres dan Dukungan Keluarga
Aspek psikologis seperti pengelolaan stres turut memegang peranan krusial. Teknik relaksasi sederhana, latihan pernapasan, hingga aktivitas spiritual dapat membantu pasien menjaga ketenangan batin. Di sini, peran keluarga sangat dibutuhkan.
"Keluarga perlu memberikan dukungan agar penderita tidak merasa terbebani untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang menguras energi," tambah Anshari.
Terakhir, ia mengingatkan pentingnya aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau peregangan untuk menjaga kelenturan sendi. Namun, pasien harus menghindari aktivitas berlebihan yang bisa memicu kelelahan ekstrem. Menjaga kebersihan tangan dan menggunakan masker juga tetap disarankan guna mencegah infeksi yang seringkali menjadi pemicu kekambuhan autoimun.
Dengan mengenali batas kemampuan tubuh dan tetap disiplin pada protokol kesehatan pribadi, penderita autoimun dapat merayakan Hari Kemenangan dengan aman, nyaman, dan tetap bugar.(*).