Ekonomi . 24/03/2026, 08:07 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Untuk meredam tekanan, pemerintah menerbitkan obligasi internasional seperti global bond dan Samurai bond senilai US$6,85 miliar.
Pada 2018:
Cadangan devisa turun US$17,13 miliar
Rupiah terdepresiasi 13,5% hingga Rp15.202 per dolar AS
Pemerintah kembali menerbitkan utang luar negeri sekitar US$11,4 miliar untuk menstabilkan kondisi.
Saat pandemi COVID-19 melanda:
Cadangan devisa turun US$10,7 miliar hanya dalam satu bulan
Rupiah melemah sekitar 20% hingga Rp16.575 per dolar AS
Tekanan ini menunjukkan betapa rentannya rupiah terhadap gejolak global.
Memasuki awal 2026, tekanan terhadap rupiah kembali muncul. Dalam dua bulan pertama saja:
Cadangan devisa turun sekitar US$4,6 miliar
Pemerintah telah menarik utang luar negeri sebesar US$7,1 miliar
Utang tersebut berasal dari berbagai denominasi seperti dolar AS, euro, dan yuan.
Hal ini memperkuat indikasi bahwa stabilitas rupiah masih sangat bergantung pada aliran dana asing.
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi memperburuk kondisi ekonomi global. Anthony menyebut konflik ini bisa menjadi katalis tambahan bagi pelemahan rupiah melalui beberapa jalur:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media