Harga Minyak Dunia Merosot Tajam Usai Trump Beri Sinyal Redakan Konflik dengan Iran

news.fin.co.id - 24/03/2026, 13:28 WIB

Harga Minyak Dunia Merosot Tajam Usai Trump Beri Sinyal Redakan Konflik dengan Iran

Donald Trump

fin.co.id – Pasar energi global mengalami koreksi signifikan pada perdagangan Senin 23 Maret 2026 setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan sinyal positif terkait upaya penyelesaian konflik dengan Iran. Kabar mengenai potensi dialog tersebut langsung menekan harga minyak mentah yang sebelumnya sempat melonjak tinggi akibat ketegangan di Timur Tengah.

Minyak mentah Brent sebagai acuan global tercatat turun lebih dari 7 persen ke level 104 per barel, setelah sempat terjerembap hingga 13 persen dari posisi tertingginya di angka 114 per barel.

Sejalan dengan itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penyusutan sebesar 6,9 persen ke level 91,4 per barel. Meski mengalami penurunan, posisi harga saat ini masih berada di level yang lebih tinggi jika membandingkan dengan periode sebelum pecahnya serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.

Sentimen pasar berubah drastis setelah Trump mengklaim adanya pembicaraan intensif antara AS dan Iran dalam dua hari terakhir. Ia menyebut proses negosiasi tersebut berjalan sangat baik guna mencapai penyelesaian konflik secara menyeluruh. Sebagai langkah awal, Trump memerintahkan penundaan seluruh rencana serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan, sembari memantau hasil perkembangan meja perundingan.

Advertisement

Iran Bantah Klaim Dialog

Namun, pernyataan sepihak dari Gedung Putih tersebut segera mendapatkan bantahan keras dari pihak Teheran. Melalui media yang berafiliasi dengan pemerintah, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada dialog resmi yang berlangsung dengan Amerika Serikat.

Otoritas Iran menilai klaim yang dilontarkan Trump hanyalah sebuah manuver politik untuk menekan harga energi global sekaligus strategi untuk membeli waktu di tengah desakan domestik maupun internasional. Perubahan sikap Trump yang mendadak ini pun memicu tanda tanya besar bagi para pelaku pasar, mengingat beberapa hari sebelumnya ia sempat melontarkan ancaman keras untuk menghancurkan fasilitas listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

Ancaman Balasan Korps Garda Revolusi

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran tetap mempertahankan posisi konfrontatif dengan menegaskan akan membalas setiap serangan yang menargetkan fasilitas vital mereka. Mereka mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan komunikasi milik Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Teheran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup tanpa batas waktu sebagai bentuk protes atas agresi yang mereka terima. Ketidakpastian antara klaim damai dari AS dan bantahan keras dari Iran diprediksi akan terus menjaga volatilitas harga minyak dalam jangka pendek, seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas suplai energi dunia.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID