Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sebut Donald Trump Sebar Berita Palsu

news.fin.co.id - 24/03/2026, 11:03 WIB

Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sebut Donald Trump Sebar  Berita Palsu

Presiden AS Donald Trump.

fin.co.id - Iran dengan tegas membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa ada negosiasi dengan Teheran. 

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat. Ia menyebut kabar tersebut sebagai informasi yang tidak benar.

"Tidak ada negosiasi yang berjalan dengan Amerika Serikat. Laporan berita palsu tersebut dimaksudkan untuk memanipulasi pasar finansial dan minyak serta untuk melarikan diri dari kekacauan yang menjebak AS dan Israel," kata Ghalibaf melalui sosial media X, Senin 23 Maret 2026.

Menurut Ghalibaf, masyarakat Iran saat ini justru menuntut tindakan tegas terhadap AS dan Israel sebagai agresor. Ia juga menegaskan bahwa para pejabat negara tetap solid mendukung kepemimpinan nasional.

Advertisement

Ghalibaf menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang "penuh dan menimbulkan penyesalan" bagi para agresor, sementara semua pejabat berdiri teguh mendukung pemimpin negara dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa telah melakukan komunikasi dengan Iran dalam beberapa hari terakhir.

"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," kata Trump di platform media sosialnya, Truth Social.

Trump juga menyebut bahwa ia telah mengambil langkah untuk menunda serangan militer terhadap Iran.

Trump menambahkan bahwa berdasarkan "nada dan isi percakapan mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu," dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Penundaan itu, menurut Trump, masih bergantung pada hasil pembicaraan yang sedang berlangsung.

Situasi di kawasan Teluk Persia sendiri memang tengah memanas. Ketegangan meningkat sejak serangan gabungan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Advertisement

Serangan balasan tersebut menimbulkan korban jiwa, merusak infrastruktur, dan berdampak pada kondisi pasar global serta penerbangan internasional. *

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca