fin.co.id - Harga minyak dunia mengalami penurunan drastis setelah Presiden Donald Trump mengklaim telah melakukan pembicaraan untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, dan langsung memicu reaksi cepat di pasar global.
Minyak mentah jenis Brent crude oil sempat merosot hingga 14% ke level US$96 per barel hanya dalam waktu singkat. Namun, penurunan ini tidak berlangsung lama setelah pihak Iran membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Tak lama setelah pernyataan Trump, pemerintah Iran melalui kantor berita resmi dan Kementerian Luar Negeri langsung membantah klaim tersebut.
Menurut Teheran, tidak ada dialog apa pun dengan Washington terkait penghentian konflik.
Bantahan ini membuat pasar kembali bergejolak. Harga minyak yang sempat jatuh mulai pulih sebagian, sementara harga gas alam Eropa juga mengalami fluktuasi tajam.
Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap pernyataan politik, terutama di tengah konflik besar.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, pasar energi global memang berada dalam tekanan berat, terutama setelah Iran hampir sepenuhnya memblokir Selat Hormuz.
Penutupan jalur ini berdampak besar karena:
-
Sekitar 20% aliran minyak dunia melewati wilayah tersebut
-
Sebagian besar pasokan gas alam cair (LNG) juga terganggu
Lembaga International Energy Agency bahkan menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.
Pemerintah Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir memang berupaya keras menekan lonjakan harga energi.
Selain pernyataan Trump, langkah lain yang telah dilakukan meliputi:
-
Pelepasan cadangan minyak darurat
-
Pelonggaran sebagian sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia
-
Upaya diplomasi untuk meredakan konflik