Ekonomi . 25/03/2026, 13:11 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Admin
Ketika konflik pecah antara Israel-AS melawan Iran pada 28 Februari lalu, Filipina kehilangan akses stabil terhadap hampir 26 persen kebutuhan energinya.
Situasi semakin parah setelah Teheran mengambil kendali penuh atas Selat Hormuz.
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran paling vital bagi pasokan minyak sedunia, terutama untuk negara-negara di Asia.
Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan sebelumnya telah memicu pembalasan hebat berupa serangan drone dan rudal.
Dampaknya, distribusi energi global terhambat dan harga bahan bakar meroket tajam di pasar internasional.
Meskipun tekanan global begitu nyata, Kementerian ESDM menjamin bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap menjadi prioritas tertinggi.
Langkah-langkah preventif yang disiapkan pemerintah bertujuan untuk membentengi ekonomi nasional dari efek domino kenaikan harga minyak dunia.
Dengan stok yang diklaim aman, pemerintah berharap iklim usaha di tanah air tetap kondusif.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tetap efisien dalam menggunakan energi.
Kesadaran untuk tidak melakukan aksi borong (panic buying) sangat membantu pemerintah dalam menjaga stabilitas distribusi di lapangan.
Ketahanan energi nasional adalah kerja kolektif antara kebijakan pemerintah yang taktis dan perilaku konsumen yang cerdas. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media