Untuk menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah level 3 persen, sebuah rencana darurat telah disiapkan.
Strategi yang paling mencolok dan mungkin terasa pahit adalah rencana pengurangan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini diambil demi mengamankan stabilitas fiskal nasional di tengah kenaikan harga minyak dunia yang terus membayangi.
Lukman Leong menambahkan bahwa pemotongan pos anggaran tertentu menjadi pilihan pahit yang harus diambil pemerintah agar keuangan negara tidak jebol.
Fokus utama saat ini adalah memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga meskipun harga minyak global terus merangkak naik akibat konflik yang tak kunjung usai.
Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal kini menjadi kunci utama agar Rupiah tidak terperosok lebih dalam ke jurang pelemahan.
Masa Depan Nilai Tukar Rupiah: Masih Abu-Abu dan Penuh Ketidakpastian
Dengan perkembangan yang begitu dinamis, sulit untuk memprediksi kapan Rupiah akan kembali stabil sepenuhnya.
Faktor eksternal, terutama dari tensi geopolitik Timur Tengah, masih memegang kendali penuh atas arah pasar keuangan global.
Para investor disarankan untuk tetap waspada terhadap setiap rilis berita resmi dan tidak mudah terjebak oleh spekulasi.
Spekulasi yang bisa memanipulasi sentimen finansial dalam waktu singkat bisa menjadi jebakan yang merugikan.
Apakah Rupiah mampu bertahan atau justru terseret oleh krisis energi global yang semakin nyata?
Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana eskalasi di Timur Tengah berkembang dalam beberapa hari ke depan.
Tetaplah memantau pergerakan pasar secara rutin agar kamu tidak kehilangan momentum dalam mengambil keputusan finansial yang tepat di tengah ketidakpastian ini. (*)