fin.co.id - Presiden AS, Donald Trump mengecam perilaku regional Iran. Ia juga menyebut Iran sebagai negara "pengganggu", yang pengaruhnya kini semakin berkurang di bawah operasi militer AS.
"Selama 47 tahun, Iran dikenal sebagai pengganggu di Timur Tengah, tetapi mereka bukan lagi pengganggu. Mereka sedang dalam pelarian," kata Trump di Future Investment Initiative, sebuah konferensi bisnis Saudi di negara bagian Florida, Jumat, 28 Maret 2026.
Trump berpendapat bahwa "agresi teror" dan "pemerasan nuklir" Iran telah mendefinisikan sikap negara itu selama beberapa dekade.
"Malam ini kita lebih dekat dari sebelumnya pada kebangkitan Timur Tengah yang akhirnya bebas dari agresi teror Iran dan pemerasan nuklir," kata Trump.
Trump juga menolak menyebut operasi Iran sebagai "perang" dan mengaku lebih suka menyebutnya sebagia "operasi militer".
Dalam kesempatan itu, ia mendesak Iran untuk segera membuka blokade Selat Hormuz. Sejak AS melancarkan serangan ke wilayah Iran pada akhir bulan lalu, Teheran memutuskan untuk memblokir Selat Hormuz.
Presiden yang mendapat kecaman dari dalam negeri akibat agresi ke Iran tersebut sempat melontarkan dark jokes tentang mengganti nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump".
"Kita sedang bernegosiasi sekarang, dan akan sangat bagus jika kita bisa melakukan sesuatu, tetapi mereka harus membukanya. Mereka harus membuka Selat Trump -- maksud saya Hormuz. Maaf, saya sangat menyesal. Kesalahan yang mengerikan," ujarnya.
Trump Kritik Sikap NATO
Sama seperti sebelumnya, Trump tak lupa melontarkan kritikan pada NATO. Ia menyebut keputusan aliansi untuk tidak bergabung dalam perang melawan Iran sebagai "kesalahan besar".
"Kami akan selalu ada untuk mereka, tetapi sekarang, berdasarkan tindakan mereka, saya rasa kami tidak perlu lagi," kata Trump.
Ia mengaku melancarkan perang terhadap Iran untuk "mendapatkan rasa hormat dari dunia". "Kami membantu banyak sekutu, dan kami belajar tentang sekutu lain. Kami belajar bahwa sekutu lain tidak ada di sana," ujarnya.
"Kami tidak membutuhkan mereka, tetapi mereka tidak ada di sana jika kami membutuhkan mereka, dan itu akan sangat merugikan mereka," lanjutnya.