fin.co.id - Memasuki satu bulan konfrontasi bersenjata melawan Amerika Serikat dan Israel, Iran menunjukkan ketangguhan yang tak terduga dengan menerapkan taktik gerilya skala besar. Meskipun terus digempur serangan udara canggih setiap harinya, Teheran terbukti masih mampu menyandera stabilitas ekonomi global melalui penguasaan strategis di kawasan Teluk.
Kekuatan utama Iran terletak pada kemampuannya mengontrol arus lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi urat nadi pengiriman minyak dan gas alam dunia. Dengan melumpuhkan jalur ini, Iran berhasil memicu lonjakan harga minyak mentah dan membuat pasar saham global bergejolak. Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi Presiden AS Donald Trump, yang kini menghadapi dilema antara melakukan eskalasi militer lebih lanjut atau menempuh jalur negosiasi di tengah persiapan pemilu sela November mendatang.
Secara taktis, Iran mengadopsi gaya bertempur kelompok pemberontak dengan memanfaatkan sumber daya terbatas untuk memberikan dampak kerusakan maksimal. Meski sebagian besar kekuatan udara dan lautnya dilaporkan telah hancur,
Teheran masih memiliki gudang senjata berupa rudal dan pesawat nirawak (drone) yang tersembunyi di jaringan pangkalan bawah tanah. Strategi "tembak dan lari" menggunakan peluncur mobile yang menyerupai truk komersial membuat posisi mereka sulit dideteksi oleh radar lawan.
Namun, di balik ketangguhan militer tersebut, Iran juga menghadapi tantangan internal yang serius. Kepemimpinan Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, mulai dipertanyakan setelah dirinya jarang tampil di publik menyusul laporan adanya luka akibat perang. Selain itu, pemerintah mulai merekrut remaja berusia 12 tahun untuk mengisi jajaran Basij guna memperkuat pos-pos pemeriksaan yang terus menjadi target serangan.
Hingga saat ini, Amerika Serikat terus menambah kekuatan marinir dan pasukan terjun payung di kawasan tersebut. Washington menetapkan tenggat waktu hingga awal April bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi risiko serangan pada fasilitas infrastruktur energi domestik. Pertaruhan besar kini berada di tangan kedua belah pihak, apakah diplomasi akan segera tercapai atau konflik ini justru akan menyeret dunia ke dalam krisis energi yang lebih dalam.