Beberapa indikator harga energi menunjukkan penurunan, antara lain:
-
Minyak WTI turun di bawah USD 101 per barel
-
Minyak Brent melemah mendekati USD 104 per barel
Penurunan harga minyak tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi strategi investor di pasar global.
Ketika harga energi melemah, investor cenderung mengalihkan perhatian ke berbagai aset lainnya, termasuk logam mulia.
Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, emas masih dianggap sebagai safe haven atau aset lindung nilai yang relatif stabil.
Penurunan Yield Obligasi Dukung Harga Emas
Selain faktor geopolitik dan harga energi, penguatan emas juga dipicu oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Yield obligasi tenor dua tahun dilaporkan turun ke sekitar 3,78 persen.
Pergerakan ini dipengaruhi oleh pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang memberi sinyal bahwa bank sentral Amerika tidak akan langsung menaikkan suku bunga hanya karena tekanan inflasi dari harga energi.
Pernyataan tersebut membuat pasar menilai bahwa kebijakan moneter AS kemungkinan akan tetap stabil dalam waktu dekat.
Penurunan yield obligasi biasanya memberikan sentimen positif bagi harga emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga seperti instrumen obligasi.
Inflasi Eropa Naik, Namun Pasar Fokus Geopolitik
Di sisi lain, kawasan Zona Euro juga mencatat perkembangan ekonomi yang cukup menarik.
Tingkat inflasi di kawasan tersebut meningkat dari 1,9 persen pada Februari menjadi sekitar 2,5 persen pada Maret 2026.
Meski demikian, data inflasi saat ini belum menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.