Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Pidato Trump Tanpa Kepastian Gencatan Senjata

news.fin.co.id - 02/04/2026, 12:45 WIB

Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Pidato Trump Tanpa Kepastian Gencatan Senjata

Donald Trump

fin.co.id - Pasar energi global kembali mengalami guncangan hebat pada perdagangan Kamis 2 April 2026. Harga minyak mentah dunia terpantau meroket tajam dengan kenaikan lebih dari 5 per barel menyusul pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai pelaku pasar tidak memberikan kepastian konkret mengenai penyelesaian konflik bersenjata.

Mengutip data perdagangan terbaru dari Reuters, minyak mentah berjangka jenis Brent mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 6,33 atau naik sekitar 6,3 persen hingga menyentuh level 107,49 per barel. Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang merangkak naik 5,28 atau setara 5,3 persen menuju angka 105,40 per barel.

Lonjakan harga ini terjadi secara dramatis sesaat setelah Trump memberikan pidato melalui televisi nasional. Padahal, sesaat sebelum pidato dimulai, harga minyak sempat menunjukkan tren penurunan lebih dari 1 per barel akibat spekulasi positif pasar.

Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa militer Amerika Serikat sudah berada di ambang penyelesaian tugas. Ia memprediksi perang akan tuntas dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan, namun sayangnya ia tidak memaparkan rincian teknis maupun keterlibatan diplomatik yang jelas.

Advertisement

"Kami akan menyelesaikan tugas ini, dan kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat. Kami sudah sangat dekat," ujar Trump dalam pidatonya.

Ketidakpastian Global dan Ancaman Krisis Eropa

Analis Pasar Senior dari Philip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai bahwa reaksi pasar merupakan bentuk kekecewaan atas absennya sinyal gencatan senjata yang jelas dalam pidato tersebut. Menurutnya, ketidakpastian ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan jangka panjang di jalur maritim internasional.

"Pasar bereaksi keras karena tidak ada penyebutan eksplisit soal diplomasi atau penghentian serangan. Jika risiko jalur distribusi maritim terus meningkat, bukan tidak mungkin harga minyak akan menguji level tertinggi baru dalam waktu dekat," ungkap Priyanka.

Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) juga merilis peringatan serius mengenai dampak ekonomi global. Pihak IEA memprediksi bahwa gangguan pasokan minyak mentah ini akan mulai memukul stabilitas ekonomi di kawasan Eropa mulai April ini. Selama ini, negara-negara Eropa dilaporkan masih mampu bertahan berkat kontrak pengiriman lama yang ditandatangani sebelum eskalasi perang pecah.

Kenaikan harga energi yang tidak terkendali ini diprediksi akan memicu tekanan inflasi di berbagai belahan dunia, memaksa pelaku industri dan konsumen untuk bersiap menghadapi biaya operasional yang jauh lebih tinggi.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID