Sejak Kecil Ingin Jadi Tentara: Ini Sosok Kopda Farizal Rhomadhon Prajurit yang Gugur di Lebanon

news.fin.co.id - 05/04/2026, 08:02 WIB

Sejak Kecil Ingin Jadi Tentara: Ini Sosok Kopda Farizal Rhomadhon Prajurit yang Gugur di Lebanon

Potret almarhum Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon dalam seragam dinas TNI saat menjalankan misi perdamaian PBB.Foto:IG@farizalrmd1

fin.co.id - Kepergian Kopral Dua (Anumerta) Farizal Rhomadhon meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan korps TNI. Prajurit muda berusia 28 tahun ini gugur saat menjalankan tugas suci dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon Selatan pada Minggu, 29 Maret 2026. Farizal menjadi martir perdamaian setelah serangan artileri menghantam wilayah Indobatt UNP 7-1, Desa Adchit Al Qusayr.

Cita-Cita Baja Sang Anak Bungsu

Lahir di Kulon Progo pada 3 Januari 1998, Farizal sudah menunjukkan ketertarikan kuat pada dunia militer sejak dini. Setamat SMA pada tahun 2016, ia langsung membulatkan tekad untuk mendaftar sebagai anggota TNI. Pilihan ini murni datang dari hatinya sendiri, bahkan ia sempat menolak tawaran ibundanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.

"Dari SMA itu senangnya memang cita-cita menjadi TNI, saya suruh kuliah tidak mau," kenang Supinah, ibunda Farizal, saat ditemui di rumah duka, Padukuhan Ledok, Sidorejo, Lendah.

Advertisement

Karier militernya dimulai dengan penempatan di Aceh sebagai bagian dari kesatuan Yonif 113/Jaya Sakti di bawah Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda. Di sana, ia menjabat sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kompi Markas. Loyalitasnya teruji lewat berbagai penghargaan, termasuk Satyalancana Dharma Nusa dan Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun.

Komunikasi Terakhir dari Balik Bunker

Sebagai anggota Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-S, Farizal telah berada di Lebanon sejak April tahun lalu. Meski terpisah jarak ribuan kilometer, anak bungsu dari dua bersaudara ini tidak pernah putus menjalin komunikasi dengan orang tuanya di Kulon Progo maupun istri dan anaknya yang berada di asrama militer Bireuen, Aceh.

Supinah menceritakan bahwa putra bungsunya itu rutin melakukan panggilan video (video call) hampir setiap hari. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, obrolan mereka sering diwarnai cerita menegangkan mengenai situasi konflik di Lebanon Selatan yang kian memanas.

“Dia sering bilang kalau ada sirene peringatan berbunyi, dia harus langsung masuk ke dalam bunker selama beberapa jam. Nanti kalau sudah aman baru keluar lagi,” tutur Supinah penuh haru.

Janji Kepulangan yang Tak Terwujud

Kepulangan Farizal sebenarnya sudah di depan mata. Pihak keluarga telah menerima informasi bahwa masa tugas Farizal akan berakhir pada akhir April 2026, dan ia dijadwalkan menginjakkan kaki kembali di tanah air pada bulan Mei mendatang.

Farizal pergi meninggalkan seorang istri, Fafa Nur Azila, dan putri kecilnya, Shanaya Almahyra Elshanu, yang baru menginjak usia dua tahun. Di mata warga sekitar, Farizal dikenal sebagai sosok yang religius, ramah, dan sangat disiplin. Kini, meski raga sang prajurit telah tiada, dedikasinya yang melintasi batas negara akan tetap abadi sebagai kebanggaan warga Kulon Progo dan bangsa Indonesia.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID