fin.co.id - Fenomena iklim global yang dikenal sebagai El Nino “Godzilla” diperkirakan kembali mengancam stabilitas cuaca di Indonesia pada pertengahan tahun 2026.
Para peneliti memperkirakan fenomena ini berpotensi memicu kekeringan ekstrem dan penurunan curah hujan drastis di sejumlah wilayah Tanah Air.
Para ahli menyebut istilah “Godzilla” bukan tanpa alasan. Nama ini digunakan untuk menggambarkan potensi El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas, sehingga masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap perubahan iklim yang mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), istilah El Nino “Godzilla” muncul kembali karena adanya kemungkinan gabungan beberapa fenomena iklim yang dapat memperluas dampak kekeringan di berbagai wilayah.
Meski demikian, penggunaan istilah tersebut bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Sebaliknya, istilah itu digunakan sebagai peringatan dini agar pemerintah, sektor pertanian, dan masyarakat dapat mempersiapkan langkah antisipasi sejak awal.
Para peneliti menilai kesiapsiagaan menjadi kunci penting untuk meminimalisasi dampak buruk yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim ekstrem.
Peluang El Nino Meningkat Pertengahan 2026
Berdasarkan laporan terbaru dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada 12 Maret 2026, kondisi iklim global saat ini masih berada pada kategori normal.
Namun, peluang terbentuknya El Nino diprediksi meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya dari stasiun pengamatan GAW Bariri, menunjukkan probabilitas munculnya El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Jika fenomena ini benar-benar terjadi, perubahan pola angin di wilayah Pasifik akan mempengaruhi kondisi atmosfer di Indonesia.
El Nino biasanya terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami peningkatan.
Kondisi ini menyebabkan pusat pembentukan awan hujan bergeser dari wilayah Indonesia ke Samudra Pasifik.