Antara Puing di Kota Zanjan dan Denyut Teheran: Potret Keteguhan Warga Iran di Tengah Perang

news.fin.co.id - 07/04/2026, 07:50 WIB

Antara Puing di Kota Zanjan dan Denyut Teheran: Potret Keteguhan Warga Iran di Tengah Perang

Potret jalanan di kota Zanjan Iran dengan latar belakang bangunan yang rusak akibat serangan udara namun aktivitas warga tetap berjalan.Foto:AP Photo/IST

Antara Spanduk Perlawanan dan Rutinitas yang Tak Mati

fin.co.id - Perbatasan Iran kini menyambut pendatang dengan suasana mencekam. Spanduk hitam besar membentang di gerbang masuk, bersanding dengan potret mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang menatap tajam, seolah menagih janji pembalasan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Namun, di balik simbol duka dan amarah tersebut, denyut nadi kehidupan warga sipil di sepanjang jalur menuju Teheran justru menunjukkan anomali yang luar biasa.

Dalam perjalanan darat selama 12 jam dari perbatasan Turki menuju ibu kota, pemandangan kontras tersaji secara gamblang. Meski perang regional ini telah mengguncang ekonomi dunia selama lima minggu terakhir pasca tewasnya Khamenei, sebagian besar warga Iran tetap menjalankan aktivitas harian mereka dengan keteguhan yang sulit dipercaya.

Advertisement

Jejak Luka di Kota Zanjan

Bukti nyata kehancuran akibat serangan udara mulai terlihat saat memasuki Kota Zanjan. Sebuah pusat komunitas religius atau husseiniyah yang telah berdiri berabad-abad kini menyisakan puing. Serangan udara yang diklaim militer Israel sebagai "markas militer" tersebut nyatanya menghantam fasilitas publik, termasuk klinik kesehatan gratis dan perpustakaan yang menyimpan 35.000 naskah kuno.

Pihak otoritas lokal mengonfirmasi bahwa dua orang gugur dalam insiden ini, yakni seorang penjaga perpustakaan dan relawan Bulan Sabit Merah Iran.

"Iran ingin merundingkan perdamaian dengan Trump, tetapi Trump membalasnya dengan perang. Dia yang memulai, tapi kami pasti akan menjadi pihak yang menang," ujar Jaafar Mohammadi, Direktur Kebudayaan Provinsi setempat.

Keteguhan di Tengah Ancaman "Zaman Batu"

Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan ancaman ekstrem untuk membom Iran kembali ke "Zaman Batu" jika mereka tidak segera membuka Selat Hormuz. Meski ribuan serangan udara telah menghujam berbagai titik di negara itu, kontrol pemerintahan Iran tampak belum goyah.

Di kota-kota yang dilewati menuju Teheran, toko-toko tetap beroperasi dan arus lalu lintas mengalir normal. Menariknya, pemandangan perempuan yang tidak lagi mengenakan penutup kepala wajib semakin jamak terlihat, menandakan adanya pergeseran sosial di tengah tekanan politik yang hebat. Bahkan di sebuah restoran lokal, sayup-sayup terdengar lagu barat diputar, kontras dengan narasi permusuhan yang mendominasi media pemerintah.

Teheran: Garis Depan yang Sunyi

Memasuki Teheran selepas tengah malam, suasana berubah menjadi sunyi dan tegang. Ibu kota ini berada di garis depan bombardir udara yang menargetkan gedung-gedung pemerintah dan kantor polisi. Hingga saat ini, data menunjukkan lebih dari 1.900 orang kehilangan nyawa, meskipun identitas pasti antara tentara dan warga sipil masih simpang siur.

Advertisement

Meskipun ancaman serangan udara membayangi setiap malam, distribusi kebutuhan pokok seperti bahan bakar tetap berjalan lancar. Pemerintah masih memberikan subsidi besar sehingga harga bensin bertahan di angka 15 sen AS per galon, walau pembelian kini dibatasi maksimal 20 liter per transaksi.

Bagi warga seperti Mahmoud Maasoumi, seorang pensiunan tentara, konflik ini bukan sekadar berita hari ini, melainkan luka lama sejak kudeta 1953 yang disokong CIA. Ia menegaskan bahwa musuh mungkin bisa menghancurkan gedung, namun mereka tidak akan pernah bisa membuat rakyat Iran bertekuk lutut.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID