fin.co.id - Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah seorang penasihat parlemen Iran melontarkan ultimatum keras kepada Presiden AS, Donald Trump.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mahdi Mohammadi, penasihat dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada ancaman dari Washington.
Bahkan, Mohammadi menyebut bahwa sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dapat menghadapi konsekuensi berat jika tekanan terhadap Iran terus berlanjut.
“Adalah Trump yang memiliki waktu 20 jam untuk menyerah kepada Iran atau sekutu-sekutunya akan kembali ke Zaman Batu. Kami tidak akan tunduk,” kata Mohammadi seperti dikutip dari media internasional.
Pernyataan tersebut menunjukkan sikap keras kepemimpinan Iran yang menolak tunduk terhadap tekanan atau ultimatum dari Amerika Serikat.
Ultimatum dari Iran ini muncul setelah sebelumnya Presiden Donald Trump memberikan batas waktu kepada pemerintah Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait situasi di kawasan, termasuk soal jalur strategis energi dunia di Selat Hormuz.
Trump menuntut Iran membuka jalur tersebut sepenuhnya bagi pelayaran internasional. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Amerika Serikat disebut siap melakukan serangan terhadap sejumlah infrastruktur penting di Iran.
Ancaman yang disampaikan Trump bahkan menyebut kemungkinan penghancuran fasilitas vital seperti pembangkit listrik hingga jembatan.
Namun dalam pernyataan terbarunya kepada wartawan, Trump mengatakan dirinya masih berharap situasi dapat diselesaikan tanpa perlu melakukan serangan militer.
“Saya harap saya tidak perlu melakukannya,” ujar Trump ketika ditanya soal ancaman terhadap fasilitas penting di Iran.
Trump juga menyebut bahwa situasi saat ini berada dalam fase yang sangat krusial, dan keputusan Amerika Serikat ke depan akan bergantung pada respons pemerintah Iran.
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengaku telah memiliki rencana untuk menyelesaikan konflik dengan Iran.
Meski begitu, ia menolak mengungkapkan strategi tersebut kepada publik.
“Saya punya rencana terbaik, tapi saya tidak akan memberi tahu Anda apa rencana saya,” kata Trump.