fin.co.id - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dan merembet ke dinamika politik dalam negeri AS. Pernyataan Presiden Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran memicu gelombang kritik dari kalangan Partai Demokrat.
Mengutip laporan Al Jazeera, Senin 6 April, sejumlah legislator Demokrat mempertanyakan kondisi mental presiden dari Partai Republik tersebut.
Kritik itu muncul setelah Trump menyampaikan pesan bernada ancaman bertepatan dengan momen Paskah, Minggu 5 April yang berisi rencana pengeboman fasilitas sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Para pakar hukum internasional menilai tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Desakan keras datang dari Anggota Kongres Yassamin Ansari yang secara terbuka meminta penerapan Amendemen ke-25 guna mencopot Trump dari kursi kepresidenan. Ia menilai Trump sudah tidak layak memimpin.
“Presiden Amerika Serikat (Trump) adalah orang gila yang tidak waras, dan ancaman keamanan nasional bagi negara kita dan seluruh dunia,” tulis Ansari dalam unggahan di media sosial.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas potensi konflik, dukungan terhadap Trump dari Partai Republik masih terlihat solid. Senator Lindsey Graham justru membela sikap tegas presiden dan menganggapnya sebagai langkah strategis.
“Presiden Trump benar dalam bersikeras bahwa setiap kesepakatan yang dinegosiasikan harus memenuhi tujuan militer dan strategis kita,” kata Senator Lindsey Graham, Senin 6 April 2026.
“Jika Iran menolak, dia benar untuk menghancurkan infrastruktur penting mereka sehingga mereka tidak dapat kembali ke cara lama mereka,” sambung Graham.
Ancaman terhadap infrastruktur sipil Iran diketahui telah disuarakan Trump selama lebih dari dua pekan terakhir. Hal ini berkaitan dengan langkah Teheran yang menutup Selat Hormuz.
Dari sisi militer, Iran memahami adanya ketimpangan kekuatan jika harus berhadapan langsung dengan Amerika Serikat dan Israel. Sebagai respons, Teheran mengambil langkah strategis dengan memblokir Selat Hormuz untuk menekan distribusi minyak global dan meningkatkan beban biaya bagi pihak lawan.
Selain itu, Iran juga dilaporkan mengintensifkan aksi militer dengan meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta sejumlah titik di kawasan regional. *