fin.co.id - Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) mengimbau calon jemaah haji 2026 untuk tetap tenang terkait potensi adanya biaya tambahan dalam pelaksanaan ibadah ke Tanah Suci.
Menteri Haji dan Umrah, Irfan Yusuf, menegaskan, kemungkinan kenaikan biaya akibat situasi geopolitik di Timur Tengah tidak akan dibebankan kepada jemaah.
"Sebenarnya memang ada tambahan biaya ibadah haji karena harga avtur sekarang mengalami kenaikan imbas perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, tapi itu tidak dibebankan kepada calon jemaah haji," ujar Irfan kepada awak media di Asrama Haji Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Kamis, 9 April 2026.
Pria yang akrab disapa Gus Irfan tersebut menyebutkan bahwa kebijakan untuk menekan biaya haji merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Ia menjelaskan, kenaikan biaya tetap berpotensi terjadi baik dengan maupun tanpa perubahan rute penerbangan. Hal ini dipicu lonjakan biaya penerbangan awal dari sekitar Rp33,5 juta menjadi Rp46,9 juta, atau naik sekitar 39,85 persen.
Sementara itu, jika rute penerbangan berubah, biaya diperkirakan meningkat lebih tinggi lagi, yakni dari Rp33,5 juta menjadi Rp50,8 juta per jemaah atau melonjak sekitar 51,48 persen.
"Presiden Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa walaupun ada kenaikan, jangan dibebankan kepada jamaah haji, maka kami juga sangat terharu atas perhatian Presiden Prabowo kepada jemaah haji sangat luar biasa dan itu yang buat kami sangat senang," paparnya.
Pertimbangan kenaikan biaya tersebut muncul setelah adanya pengajuan dari maskapai Garuda Indonesia pada 30 Maret 2026 serta Saudi Airlines pada 31 Maret 2026 terkait penyesuaian harga.
Garuda melalui surat resmi mengusulkan tambahan biaya sebesar Rp7,9 juta per jemaah dengan asumsi harga avtur 116 US$ sen per liter. Sementara itu, Saudi Airlines mengajukan tambahan sebesar 480 dolar AS per jemaah dengan asumsi harga avtur 137,4 US$ sen per liter.
Kenaikan ini disebabkan kebutuhan penggunaan rute alternatif yang memperpanjang waktu tempuh hingga empat jam serta meningkatkan konsumsi avtur hingga 12.000 ton.
"Pertimbangan ini dibahas karena beberapa hari lalu karena ada permintaan Garuda dan Saudi Airlines yang ingin menambah atau merubah harga karena kenaikan Avtur," ungkapnya.
"Tentu akan kami kaji kembali, kemarin surat yang diajukan oleh Garuda maupun Saudi Arabia masih di atas harga 100 Dolar AS, tapi dengan adanya gencatan senjata mungkin harga akan turun sehingga harus kami sesuaikan kembali," tambahnya menutup.
Candra Pratama/Disway