fin.co.id - Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Tangerang mengusulkan integrasi permainan tradisional ke dalam kurikulum sekolah. Hal itu bertujuan untuk memperkuat karakter siswa sekaligus membatasi dampak negatif ketergantungan digital pada generasi muda.
Ketua KORMI Kota Tangerang, Sulfi Afriadi, menyatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan usulan resmi agar permainan tradisional menjadi bagian dari muatan lokal maupun kegiatan ekstrakurikuler. Usulan ini ditujukan bagi sekolah-sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Tangerang.
"Kami terus mengenalkan permainan tradisional seperti bakiak, egrang, hingga ketapel kepada generasi sekarang. Sejauh ini, antusiasme anak-anak sangat tinggi. Mereka bahkan berharap permainan ini bisa tersedia di lingkungan sekolah," ujar Sulfi, Sabtu (11/4/2026).
Sulfi menjelaskan bahwa permainan tradisional memiliki nilai filosofis dan manfaat besar dalam pembinaan karakter. Selain melatih fisik, aktivitas ini dinilai efektif sebagai ruang perkembangan psikis anak melalui interaksi sosial langsung yang kini mulai tergerus.
Upaya ini juga menjadi respons strategis terhadap pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) Tunas Nomor 17 Tahun 2025. Regulasi tersebut mengatur pembatasan akses konten, perlindungan data pribadi, serta keamanan digital bagi anak-anak. KORMI menilai permainan tradisional adalah alternatif sehat untuk mengalihkan perhatian anak dari ketergantungan media sosial.
"Permainan tradisional memberikan ruang interaksi sosial yang menarik sebelum mereka terjun ke masyarakat yang lebih luas," tambah Sulfi.
Melalui usulan ini, KORMI berharap terjalin kolaborasi erat dengan Pemerintah Kota Tangerang untuk mencetak generasi muda yang unggul, sehat, dan memiliki identitas budaya yang kuat.