fin.co.id – Ketegangan global menemui titik balik krusial saat delegasi Amerika Serikat dan Iran melanjutkan negosiasi tatap muka yang bersejarah di Pakistan hingga Minggu 12 April 2026 dini hari. Pertemuan maraton ini berlangsung di tengah rapuhnya gencatan senjata dua minggu yang bertujuan mengakhiri perang tujuh minggu yang telah melumpuhkan pasar global dan menelan ribuan korban jiwa.
Delegasi Amerika Serikat di bawah komando Wakil Presiden JD Vance terlibat diskusi mendalam dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf. Pemerintah Pakistan bertindak sebagai mediator utama dalam agenda yang membahas langkah-langkah konkret untuk mempermanenkan gencatan senjata yang saat ini masih dibayangi ancaman eskalasi di Lebanon.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi tersebut berjalan sangat mendalam. "Kami sedang menyisir setiap detail. Apakah kesepakatan tercapai atau tidak, itu tidak mengubah posisi kami," tegas Trump kepada awak media di Islamabad sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Sebaliknya, media pemerintah Iran melaporkan masih adanya perbedaan pandangan yang cukup "serius" di antara kedua belah pihak.
Normalisasi Selat Hormuz dan Pembersihan Ranjau
Langkah militer AS di lapangan menandai urgensi pemulihan jalur perdagangan internasional. Militer Amerika Serikat mengerahkan dua kapal perusak untuk melintasi Selat Hormuz guna memulai operasi pembersihan ranjau. Jalur strategis ini merupakan nadi utama distribusi minyak dunia yang selama ini berada dalam kendali ketat Iran sejak konflik pecah.
Komandan Komando Sentral AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa pihaknya tengah membangun koridor aman bagi industri maritim. "Kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada pelaku industri global. Kekuatan tambahan, termasuk drone bawah air, akan bergabung dalam upaya pembersihan ini dalam beberapa hari ke depan," jelas Cooper.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi poin tawar-menawar yang sangat sensitif. Mengingat hampir seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur ini, penutupan selat telah memicu lonjakan harga energi yang mengguncang ekonomi banyak negara.
Tuntutan "Garis Merah" Teheran
Pihak Teheran mengajukan sejumlah syarat ketat dalam proposal 10 poin mereka. Berdasarkan informasi dari media resmi Iran, mereka menetapkan "garis merah" yang mencakup kompensasi atas kerusakan infrastruktur akibat serangan udara sejak 28 Februari lalu, serta pencairan aset Iran yang dibekukan secara global.
Selain itu, Iran menuntut jaminan penghentian serangan Israel terhadap sekutu regional mereka, terutama kelompok Hezbollah di Lebanon. Di sisi lain, Amerika Serikat mengajukan proposal 15 poin yang menekankan pada pembatasan kembali program nuklir Iran dan jaminan keamanan pelayaran internasional secara permanen.
Dampak Kemanusiaan dan Upaya Regional
Konflik yang telah memasuki bulan kedua ini telah mencatatkan angka kematian yang memprihatinkan. Data terbaru menunjukkan:
Lebih dari 3.000 jiwa melayang di Iran.
Korban tewas di Lebanon melampaui 2.020 orang.
Kerusakan infrastruktur masif terjadi di enam negara Timur Tengah.