Internasional . 12/04/2026, 16:20 WIB

GAWAT! China Tutup Keran Ekspor Asam Sulfat, Industri Tambang dan Pupuk Terancam

Penulis : Derry Sutardi  |  Editor : Derry Sutardi

fin.co.id - Konflik militer yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah kini memicu efek domino yang mulai terasa pada perekonomian global. Salah satu dampak paling nyata adalah terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi energi dan bahan baku industri dunia.

Gangguan distribusi tersebut menyebabkan terputusnya pasokan belerang (sulfur) global, bahan baku utama untuk produksi asam sulfat, senyawa kimia yang sangat penting bagi berbagai sektor industri mulai dari pertambangan hingga pertanian.

Situasi ini membuat China mengambil langkah drastis dengan menghentikan ekspor asam sulfat guna mengamankan kebutuhan industrinya sendiri. Kebijakan tersebut langsung mengguncang rantai pasok global dan memicu kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi dunia.

Akar masalah krisis ini bermula dari terganggunya distribusi belerang akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kawasan tersebut diketahui menyumbang sekitar sepertiga pasokan sulfur global.

Belerang elemental sendiri merupakan produk sampingan dari proses pemurnian minyak dan gas. Bahan ini sangat penting karena digunakan untuk memproduksi asam sulfat, salah satu bahan kimia paling vital dalam industri modern.

Namun ketika jalur distribusi di Selat Hormuz terganggu, pengiriman belerang ke berbagai negara menjadi tersendat.

Akibatnya, pasar global menghadapi kelangkaan bahan baku yang cukup serius. Kondisi ini membuat biaya produksi melonjak tajam dan memicu kenaikan harga asam sulfat di berbagai pasar internasional.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah China memutuskan untuk menghentikan ekspor asam sulfat guna menjaga stabilitas industri dalam negeri.

Menurut analis dari lembaga riset komoditas CRU Group, kebijakan tersebut dapat berdampak besar bagi industri global.

“Hilangnya pasokan dari China yang terjadi bersamaan dengan langkanya bahan baku belerang elemental akibat konflik Timur Tengah menjadi bencana besar bagi semua industri yang menggunakan asam sulfat,” kata analis CRU, Peter Harrisson, seperti dikutip dari media bisnis internasional.

Industri Tambang Dunia Terancam Lumpuh

Salah satu sektor yang paling terdampak dari krisis ini adalah industri pertambangan logam dunia.

Negara Chili, yang merupakan produsen tembaga terbesar di dunia, kini menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan operasional tambangnya.

Chili sangat bergantung pada impor asam sulfat dari China untuk mendukung proses hidrometalurgi, khususnya metode heap leaching yang digunakan untuk mengekstraksi tembaga dari bijih mineral.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com