Internasional . 12/04/2026, 16:20 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Diperkirakan lebih dari satu juta ton asam sulfat diimpor Chili dari China setiap tahunnya.
Sekitar 20 persen produksi tembaga Chili berasal dari proses yang sangat bergantung pada bahan kimia tersebut.
Namun dengan dihentikannya ekspor dari China, industri tambang di negara tersebut kini menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan.
Data pasar menunjukkan bahwa harga asam sulfat di pasar spot Chili melonjak hingga 44 persen hanya dalam satu bulan terakhir.
Jika kondisi ini terus berlanjut, produksi tembaga global bisa terganggu.
Padahal tembaga merupakan mineral strategis yang sangat dibutuhkan dalam berbagai teknologi modern, termasuk kendaraan listrik, energi terbarukan, dan infrastruktur digital.
Krisis ini tidak hanya memukul sektor pertambangan, tetapi juga mengancam industri pertanian dunia.
Industri pupuk fosfat sangat bergantung pada asam sulfat untuk memproses batuan fosfat menjadi pupuk siap pakai bagi petani.
Ketika pasokan asam sulfat terbatas, produksi pupuk fosfat otomatis ikut terhambat.
Ironisnya, keputusan China untuk menghentikan ekspor asam sulfat justru terjadi bertepatan dengan musim tanam di dalam negeri mereka sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa Beijing kini lebih memprioritaskan ketahanan pangan domestik dibandingkan ekspor bahan kimia.
Kebijakan tersebut membuat pasokan pupuk di pasar global semakin ketat.
Akibatnya, petani di berbagai negara berpotensi menghadapi harga pupuk yang lebih mahal serta keterbatasan pasokan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media