Internasional . 12/04/2026, 16:20 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Ketika pupuk menjadi mahal dan sulit diperoleh, dampaknya akan langsung dirasakan oleh sektor pertanian.
Biaya produksi pertanian meningkat karena petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli pupuk.
Jika kondisi ini berlangsung lama, harga pangan global berpotensi naik karena produksi pertanian menurun.
Kombinasi antara mahalnya energi, terbatasnya pupuk, dan terganggunya rantai pasok global dapat memicu tekanan inflasi pangan di berbagai negara.
Para analis ekonomi memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi menciptakan dampak jangka panjang terhadap ketahanan pangan global.
Gangguan distribusi belerang dan keputusan China menghentikan ekspor asam sulfat memperlihatkan betapa rapuhnya rantai pasok global terhadap konflik geopolitik.
Krisis ini tidak hanya berdampak pada industri kimia, tetapi juga menjalar ke sektor pertambangan, energi, pertanian, hingga ketahanan pangan dunia.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan jalur perdagangan di Selat Hormuz tetap terganggu, tekanan terhadap industri global diperkirakan akan semakin besar.
Beberapa analis bahkan memperkirakan dampak krisis bahan kimia ini dapat berlangsung hingga akhir tahun 2026. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media