Premanisme Tanah Abang Bikin Resah, Sopir Bajaj Dipalak Hingga Rp100 Ribu Sehari!

news.fin.co.id - 12/04/2026, 13:18 WIB

Premanisme Tanah Abang Bikin Resah, Sopir Bajaj Dipalak Hingga Rp100 Ribu Sehari!

Viral dugaan premanisme di Tanah Abang, sopir bajaj disebut dipalak hingga Rp100 ribu per hari. Foto: Tangkapan Layar TikTok @Itsmiauntr.

fin.co.id - Kasus dugaan premanisme kembali mencuat di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kali ini, sorotan datang dari video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang sopir bajaj diduga dimintai uang setoran oleh oknum tak dikenal. Isu ini langsung menyita perhatian publik karena menyangkut penghasilan harian pekerja sektor informal.

Video yang diunggah akun TikTok @Itsmiauntr pada Jumat 10 April 2026, menunjukkan interaksi antara sopir bajaj dan seseorang yang diduga melakukan pungutan. Dalam rekaman tersebut, sopir mengaku harus menyetor uang setiap hari dengan nominal yang tidak kecil.

Dalam video yang beredar, sopir bajaj menyebut jumlah setoran harian bisa mencapai Rp100 ribu. Angka ini tentu menjadi beban berat, terutama bagi pengemudi yang menggantungkan hidup dari pendapatan harian yang tidak menentu.

Ia menjelaskan bahwa permintaan uang tersebut bukan sekadar imbauan. Ada tekanan yang dirasakan jika tidak memenuhi permintaan tersebut. Kondisi ini membuat para sopir berada dalam posisi sulit.

Advertisement

Lebih lanjut, sopir itu mengungkapkan adanya ancaman serius. Jika menolak membayar, mereka bisa diteriaki maling hingga berisiko mengalami tindakan kekerasan fisik. Situasi ini memperlihatkan adanya dugaan praktik pemaksaan yang meresahkan.

Tekanan yang dialami para sopir tidak hanya berdampak pada finansial, tetapi juga mental. Ancaman diteriaki maling di ruang publik tentu bisa merusak reputasi dan memicu konflik dengan warga sekitar.

Selain itu, potensi kekerasan fisik membuat para sopir semakin tidak berdaya. Mereka harus memilih antara membayar setoran atau menghadapi risiko yang lebih besar. Kondisi ini menciptakan ketakutan yang terus menghantui aktivitas kerja sehari-hari.

Situasi seperti ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut rasa aman dalam bekerja. Ketika ancaman menjadi bagian dari rutinitas, maka ruang kerja yang seharusnya produktif berubah menjadi penuh tekanan.

Meski merasa dirugikan, para sopir bajaj mengaku sulit untuk melawan. Ada beberapa alasan yang membuat mereka tetap bertahan dalam kondisi tersebut.

Pertama, kawasan Tanah Abang merupakan salah satu titik strategis untuk mencari penumpang. Lokasi ini dikenal ramai dan menjadi sumber utama penghasilan bagi banyak sopir bajaj.

Kedua, keterbatasan pilihan membuat mereka tidak punya banyak alternatif. Pindah lokasi belum tentu memberikan pendapatan yang sama. Sementara itu, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.

Akibatnya, para sopir memilih bertahan meski harus menghadapi tekanan. Mereka tetap beroperasi sambil menanggung beban tambahan yang seharusnya tidak ada.

Dugaan aksi premanisme di Tanah Abang bukan sekadar kasus biasa. Ini mencerminkan persoalan yang lebih luas terkait keamanan dan perlindungan pekerja informal.

Advertisement

Setoran harian hingga Rp100 ribu, ancaman, serta tekanan yang dialami sopir bajaj menunjukkan adanya masalah serius yang perlu mendapat perhatian. Apalagi, mereka tetap bertahan karena tidak memiliki banyak pilihan.

Dengan viralnya kasus ini, publik kini menaruh perhatian lebih. Harapannya, kondisi ini bisa menjadi titik awal untuk perbaikan agar para sopir dapat bekerja dengan aman dan layak tanpa tekanan.

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis gaya hidup yang berfokus pada tren kecantikan dan fenomena viral. Berdedikasi mengulas tips perawatan diri yang praktis serta kurasi tren terkini di media sosial. Menyajikan informasi yang inspiratif, akurat, dan relevan bagi kebutuhan gaya hidup modern