fin.co.id - Pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) saat memberikan ceramah di Masjid UGM, DI Yogyakarta, pada 5 Maret 2026 menuai polemik hingga berujung laporan ke kepolisian. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah organisasi lain melaporkan JK atas dugaan penistaan agama.
Ceramah tersebut mengangkat tema ‘Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar’. Namun, dalam penyampaiannya, JK dinilai menyinggung ajaran agama Kristen, sehingga memicu keberatan dari pihak pelapor. Momen ceramah itu sendiri berlangsung di tengah bulan Ramadan.
Pihak pelapor mempermasalahkan bagian pidato JK yang menyinggung konflik Poso dan Ambon pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Sorotan utama tertuju pada penggunaan istilah “syahid” dalam konteks konflik bernuansa agama tersebut.
Ceramah berdurasi sekitar 43 menit itu juga disiarkan melalui kanal YouTube resmi Masjid Kampus UGM. Bagian yang dipersoalkan diduga muncul pada awal penyampaian, tepatnya dalam sekitar 10 menit pertama, ketika JK mengulas 15 konflik besar di Indonesia yang dipicu ketidakadilan, termasuk konflik Poso dan Ambon yang berkembang menjadi konflik agama.
"Ada juga (konflik) karena agama, walaupun didahului dengan ketidakadilan. Kemudian akibatnya ke agama, kaya Poso, Ambon, DI/TII. Kenapa agama gampang menjadi jadikan alasan konflik, kaya di Poso, Ambon. Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan, itu syahid. Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu, kalau saya bunuh orang Islam saya syahid, kalau saya mati pun, saya syahid. Akhirnya susah berhenti kalau konfliknya orang membawanya ke agama," kata JK dalam ceramahnya dikutip dari saluran Youtube Masjid UGM, Senin 14 April 2026.
Pada bagian lain ceramahnya, JK mengungkap keterlibatannya dalam upaya penyelesaian tiga dari total konflik besar tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada ajaran dalam Islam maupun Kristen yang membenarkan tindakan membunuh sebagai jalan menuju surga.
"Waktu di Ambon terbagi kota itu, ini Kristen, ini Islam. Kalau masuk (wilayah) Kristen, dipenggal orang. Kalau masuk daerah Islam, orang Kristen dipenggal. Ribuan hampir lima ribu orang meninggal hanya karena yang membunuh merasa syahid, hebat. Dibunuh pun orang tuanya tidak menyesal, tidak ada tangis yang menyesal di Ambon itu kalau anaknya mati, dia bilang anak saya sudah masuk surga," ujarnya.
JK juga menceritakan keputusannya untuk turun langsung ke wilayah konflik saat menjabat sebagai Menko Kesra, meski mendapat peringatan terkait risiko keselamatan.
"Bicara dengan mereka. Tentu saya (juga) masuk daerah Islam, tapi satu saya berpidato di seluruh ribuan orang. Dengan hanya satu kata, bahwa sekalian anda merasa masuk surga, tidak benar itu! Anda semua di sini yang membunuh orang, masuk neraka! Terkejut dia. Tunjukkan sama saya, agama Islam dan Kristen, yang mengatakan, membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Tunjukkan, mana! Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada, jadi anda semua masuk neraka. Semua berhenti. Semua diam," ucapnya.
"Besoknya saya panggil semua, saya marah, bahwa kalian ini yang pertama masuk neraka. Akhirnya saya bilang, apa pak, bicara dengan saya, mari kita duduk, dan ujungnya damai, di Malino," sambung dia.
Menanggapi viralnya potongan ceramah tersebut, pengelola kanal YouTube Masjid Kampus UGM memberikan klarifikasi melalui komentar yang disematkan sejak Senin (12 April 2026).
"Jemaah sekalian, kami mohon dengan sangat untuk menyimak video secara utuh, bukan hanya potongan-potongan yang beredar. Seringkali cuplikan yang tidak lengkap dapat menimbulkan kesalahpahaman karena konteks pembicaraan tidak tersampaikan dengan baik," tulis admin dalam kolom komentar.
"Mari kita bersikap adil dalam menilai suatu hal, dengan melihat secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan atau menyebarkannya lebih lanjut. Adapun apabila memerlukan klarifikasi lebih lanjut, silakan langsung ke pihak yang bersangkutan. Terima kasih atas perhatian dan kebijaksanaannya," tutupnya.