Nasional . 15/04/2026, 12:42 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
"Namun, penyamaan konsep kesyahidan dalam Islam dan Kristen sebagai legitimasi untuk membunuh merupakan penyederhanaan yang tidak tepat secara teologis," imbuhnya.
"Yang terjadi di lapangan bukanlah ajaran agama yang mendorong kekerasan, melainkan penyimpangan makna agama oleh para aktor yang terlibat dalam konflik," sambungnya.
Menurutnya, pengalaman konflik di Poso dan Maluku menjadi pengingat bahwa agama bisa terdampak oleh situasi sosial-politik yang memburuk.
"Ketika ketidakadilan, ketakutan, dan trauma kolektif bertemu dengan simbol-simbol keagamaan, makna-makna suci dapat berubah menjadi pembenaran destruktif. Pentingnya literasi agama, kepemimpinan moral, dan narasi masyarakat yang jernih," paparnya.
Ia menegaskan bahwa pernyataan Jusuf Kalla seharusnya menjadi ruang refleksi bersama.
"Bukan untuk menyalahkan agama, tetapi untuk memahami bagaimana agama dapat diselewengkan dalam situasi konflik,” pungkasnya.
Anisha Aprilia/Disway
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media