Viral . 19/04/2026, 08:35 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Kasus perilaku kurang sopan siswa kembali bikin publik heboh. Kali ini, sorotan mengarah ke SMAN 1 Purwakarta setelah aksi sejumlah siswa terhadap guru mereka viral di media sosial. Isu ini langsung menyita perhatian banyak pihak, termasuk Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Melalui akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Dedi Mulyadi angkat bicara dan memberikan respons tegas. Ia tidak hanya menyoroti kejadian tersebut, tetapi juga mendorong pendekatan yang lebih mendidik dalam menangani siswa yang terlibat.
Dalam penjelasannya, Dedi mengungkapkan bahwa pihak sekolah sudah mengambil langkah awal. Orang tua dari siswa yang terlibat langsung dipanggil untuk memberikan klarifikasi. Hasilnya, mereka menunjukkan penyesalan atas tindakan anak-anak mereka.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa pihak keluarga tidak tinggal diam. Mereka ikut bertanggung jawab dan menyadari pentingnya pembinaan terhadap perilaku anak di lingkungan sekolah.
Tidak berhenti di situ, pihak SMAN 1 Purwakarta juga sudah menjatuhkan sanksi tegas. Sekolah memberikan hukuman berupa skorsing selama 19 hari kepada siswa yang bersangkutan.
Namun, keputusan ini justru memicu diskusi lebih luas. Banyak pihak mulai mempertanyakan: apakah skorsing saja cukup untuk membentuk karakter siswa?
Di sinilah Dedi Mulyadi memberikan perspektif yang berbeda. Ia menilai bahwa hukuman tidak boleh berhenti pada skorsing semata. Menurutnya, pendekatan seperti itu belum tentu memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter siswa.
Sebaliknya, Dedi mendorong konsep hukuman yang lebih edukatif. Ia mengusulkan agar siswa diberi tanggung jawab nyata selama masa pembinaan.
Sebagai solusi konkret, Dedi Mulyadi menyarankan agar siswa yang terlibat menjalani kegiatan sosial di lingkungan sekolah. Ia mengusulkan tugas seperti membersihkan halaman hingga kamar mandi sekolah.
Durasi yang ia rekomendasikan pun tidak main-main, yakni antara 1 hingga 3 bulan. Dengan cara ini, siswa tidak hanya “dihukum”, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan rasa hormat.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena melibatkan aktivitas langsung yang membentuk kebiasaan positif. Selain itu, siswa juga tetap berada dalam lingkungan pendidikan, bukan justru dijauhkan seperti saat skorsing.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media