fin.co.id – Pengungkapan motif dendam di balik tewasnya Ketua DPD II Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, membuka kembali lembaran lama yang penuh ketegangan. Peristiwa penikaman di Bandara Karel Sadsuitubun pada Minggu 19 April 2026 seolah menjadi puncak dari ancaman nyata yang pernah Nus Kei ungkapkan beberapa tahun silam.
Jauh sebelum tragedi ini terjadi, Nus Kei secara gamblang pernah mengakui bahwa nyawanya sedang dalam bahaya. Fakta tersebut terungkap dalam persidangan kasus penganiayaan dan pembunuhan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada Februari 2021.
Target Nomor Satu di Papan Tulis
Dalam kesaksiannya saat itu, Nus Kei membeberkan informasi mengerikan mengenai adanya daftar target operasi pembunuhan. Ia mengaku menerima laporan dari anak buahnya bahwa namanya berada di urutan teratas dalam sebuah daftar yang tertulis di papan tulis (white board).
"Telepon saya, dia bilang 'jangan pergi, tinggal di rumah, karena nama kamu sudah ditulis di papan white board brader'. Namanya di nomor satu," ujar Nus Kei di hadapan majelis hakim kala itu.
Ia menjelaskan bahwa ancaman tersebut muncul tak lama setelah paman kandungnya, John Kei, bebas dari Lapas Nusakambangan. Selain dirinya, ada belasan orang lainnya yang juga masuk dalam daftar tersebut dengan label "pengkhianat harus dibunuh". Meskipun John Kei membantah keras kesaksian tersebut, Nus Kei tetap pada keterangannya merasa terus diintai oleh pihak-pihak tertentu.
Benang Merah Dendam Jakarta
Kaitan antara pengakuan di persidangan enam tahun lalu dengan peristiwa penikaman di Maluku Tenggara kini menjadi fokus perhatian publik. Kapolres Maluku Tenggara, AKBP Rian Sehendi, sebelumnya telah menyebutkan bahwa motif utama pelaku berinisial HR dan FU adalah dendam yang berakar dari permasalahan di Jakarta.
Pernyataan kepolisian mengenai "perselisihan lama di Jakarta" seakan mengonfirmasi bahwa konflik yang melibatkan Nus Kei memiliki akar yang sangat dalam dan panjang. Polisi kini terus mendalami apakah kedua pelaku yang tertangkap memiliki keterkaitan dengan kelompok yang pernah mengincar Nus Kei di masa lalu atau merupakan murni konflik pribadi yang terpisah.
Akhir dari Pelarian Sang Target
Tragedi di bandara ini akhirnya mengakhiri perjalanan hidup Nus Kei yang selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang ancaman. Meski sempat lolos dari berbagai insiden besar di ibu kota, takdir berkata lain saat ia baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya.
Kini, tim penyidik Polres Maluku Tenggara berupaya merangkai kepingan data guna memastikan apakah ada aktor intelektual di balik kedua pelaku, mengingat sejarah panjang konflik yang menyertai perjalanan hidup sang politisi Golkar tersebut.