Internasional . 29/04/2026, 18:42 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Di tengah ancaman blokade dan eskalasi konflik di Timur Tengah, kapal tanker raksasa asal Jepang, Idemitsu Maru, dilaporkan berhasil melintasi titik paling kritis di dunia, Selat Hormuz, dengan selamat pada Rabu pagi (29/04/2026).
Kapal milik raksasa energi Idemitsu Kosan ini mengangkut muatan krusial berupa dua juta barel minyak mentah untuk menjaga stabilitas energi di Negeri Sakura.
Keberhasilan pelayaran ini menjadi angin segar bagi pasar energi global. Berdasarkan data per 28 April 2026, Pemerintah Jepang mencatat masih ada 42 kapal berbendera atau terkait Jepang yang berada di kawasan Teluk Persia.
Keberhasilan Idemitsu Maru mengikuti jejak tiga kapal tanker Jepang lainnya yang sebelumnya juga sukses menembus jalur maut tersebut sejak ketegangan militer meningkat di kawasan tersebut.
Idemitsu Maru memulai misi berisikonya dengan memasuki Teluk Persia pada 25 Februari lalu. Kapal sempat tertahan selama beberapa pekan akibat meningkatnya risiko keamanan.
Namun, pada Selasa malam, kapal mulai bergerak melintasi perairan selatan Pulau Larak.
Keputusan kapten kapal untuk menggunakan rute yang direkomendasikan oleh otoritas Iran terbukti efektif.
Pada Rabu pagi, kapal dilaporkan telah keluar dari wilayah rawan dan mulai melaju bebas di perairan Samudra Hindia.
Keberhasilan ini menepis kekhawatiran akan adanya gangguan distribusi energi dari salah satu pemasok utama Jepang.
Keberhasilan Idemitsu Maru ini disambut dengan pernyataan diplomatik yang sarat akan makna sejarah dari Kedutaan Besar Iran di Jepang.
Melalui kanal resminya, misi diplomatik tersebut mengaitkan insiden ini dengan peristiwa legendaris Nissho Maru tahun 1953.
"Misi bersejarah Nissho Maru pada 1953 menjadi bukti persahabatan panjang antara kedua negara. Warisan keberanian untuk mengangkut minyak Iran di tengah tekanan internasional tetap memiliki makna penting hingga hari ini," demikian pernyataan Kedutaan Besar Iran di Tokyo.
Pada tahun 1951, Iran sempat menasionalisasi industri minyaknya yang memicu blokade dari negara-negara Barat, terutama Inggris.
Namun, Jepang melalui Idemitsu tetap berani mengirim kapal untuk menjemput minyak Iran demi kepentingan nasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media