Pendidikan . 02/05/2026, 13:36 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi arah pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Tahun ini, pemerintah mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, yang menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen bangsa dalam dunia pendidikan.
Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menilai tema tersebut mencerminkan kebutuhan mendesak akan sinergi lintas sektor di tengah kompleksitas tantangan global.
“Partisipasi semesta bukan sekadar jargon normatif. Ia harus diterjemahkan dalam desain kebijakan yang memungkinkan keterlibatan nyata, mulai dari keluarga, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas keagamaan,” ujarnya dikutip, Sabtu, 2 Mei 2026.
Menurutnya, paradigma pendidikan saat ini harus bergeser, tidak hanya berfokus pada pemerataan akses, tetapi juga peningkatan kualitas yang berkeadilan. Ia menilai, meski akses pendidikan mengalami kemajuan dalam dua dekade terakhir, aspek mutu masih menjadi tantangan besar.
Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak semata diukur dari aspek kognitif, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, etika, serta kemampuan adaptasi. Dalam konteks ini, pemikiran Ki Hadjar Dewantara tetap relevan sebagai landasan filosofis pendidikan nasional.
“Pendidikan yang memerdekakan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan manusia yang utuh, yakni yang memiliki daya pikir, daya rasa, dan daya cipta,” kata Tholabi.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan utama pendidikan nasional, mulai dari disrupsi teknologi yang memicu kesenjangan baru, ketimpangan kualitas antarwilayah, hingga relevansi kurikulum dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri jangka pendek, melainkan harus tetap menjaga keseimbangan antara ilmu terapan dan ilmu dasar.
“Jika pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai, kita berisiko kehilangan kapasitas sebagai bangsa pencipta. Inovasi justru lahir dari fondasi keilmuan yang kuat, termasuk ilmu-ilmu dasar dan humaniora,” ujarnya.
Dalam konteks lebih luas, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan kepemimpinan intelektual. Ia menekankan pentingnya menjaga independensi akademik di tengah tekanan pasar.
“Perguruan tinggi harus menjadi ruang dialektika antara tradisi dan modernitas, antara nilai dan teknologi. Di sinilah peran penting kampus dalam menyiapkan SDM yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berintegritas,” katanya.
Menuju visi Indonesia Emas 2045, Tholabi menilai kualitas SDM menjadi faktor penentu. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, menurutnya, hanya akan menjadi peluang jika didukung sistem pendidikan yang kuat.
Ia menyebut tiga prioritas utama yang perlu diperkuat, yakni peningkatan kualitas guru, transformasi kurikulum yang adaptif, serta pemerataan akses teknologi pendidikan secara inklusif.
“Indonesia Emas tidak cukup dibangun oleh manusia yang pintar, tetapi oleh manusia yang memiliki orientasi nilai. Tanpa itu, kemajuan justru bisa kehilangan arah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Hardiknas seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga ruang refleksi untuk menyusun langkah strategis ke depan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media