Viral . 06/05/2026, 05:30 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Peristiwa bermula saat sebuah wallet di jaringan Base mengirim:
Transaksi tersebut tercatat normal tanpa indikasi pelanggaran smart contract atau eksploitasi sistem blockchain.
send to grok wallet 80%https://t.co/FGDUPnzz6k
— Setya Mickala (@setyamickala) May 4, 2026
done https://t.co/glKlTp3VXE pic.twitter.com/bVB1ofTxuf
AI Grok sebelumnya terhubung dengan sistem bot bernama Bankrbot yang mengelola aktivitas token DRB. Sistem ini memungkinkan:
Artinya, jika AI menerima instruksi tertentu, hal itu bisa memicu transaksi secara langsung. Pelaku diduga menggunakan teknik prompt injection, yaitu memanipulasi cara AI memahami perintah.
Metode yang digunakan cukup unik:
Karena AI hanya memproses teks tanpa memahami niat berbahaya, sistem akhirnya menjalankan perintah tersebut.
Celah justru terjadi pada lapisan AI, bukan teknologi blockchain. Fenomena ini dikenal sebagai Agentic Exploit, yaitu AI dimanipulasi untuk melakukan aksi yang tidak diinginkan.
Secara teknis, jaringan Base melihat transaksi ini sebagai perpindahan aset yang sah karena Grok memiliki otoritas penuh atas wallet-nya. Sehingga, instruksi yang masuk dianggap sebagai perintah dari pemilik sah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media