Viral . 08/05/2026, 07:16 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Media sosial diramaikan dengan kemunculan struk pembelian BBM jenis Pertalite yang menampilkan harga non subsidi mencapai Rp16.088 per liter.
Struk tersebut disebut berasal dari SPBU Tol Jakarta–Merak dan viral setelah dibagikan akun TikTok @IQwarga.
Dalam video yang beredar, seorang perekam menunjukkan rincian harga Pertalite sebelum subsidi pemerintah diberikan.
Ia menyebut harga jual Pertalite kepada masyarakat saat ini masih berada di angka Rp10.000 per liter karena adanya subsidi sebesar Rp6.088.
“Coba saudara-saudaraku ya, Harga Pertalite yang non subsidi itu Rp16.088 per liter. Nah disubsidi sama pemerintah 6.088. Harga jual Rp10.000,” kata perekam video tersebut dikutip Jumat 8 Mei 2026.
Pernyataan itu kemudian memicu perdebatan karena harga non subsidi Pertalite disebut lebih tinggi dibandingkan Pertamax yang dijual di kisaran Rp12.300 hingga Rp12.900 per liter.
“Jadi kalau tidak disubsidi, harganya Rp16.088 per liter. Nah pertanyaannya, kenapa musti Pertalite yang disubsidi? Kenapa bukan Pertamax ya kan?,” lanjutnya.
“Nah, masa coba bayangin. Masa iya Harga jual Pertalite lebih mahal daripada Harga Pertamax,” katanya kembali.
Video tersebut langsung menyedot perhatian publik dan menuai berbagai komentar dari warganet. Banyak pengguna media sosial mempertanyakan alasan harga keekonomian Pertalite bisa berada di atas Pertamax.
Di tengah ramainya perbincangan tersebut, pemerintah hingga Mei 2026 masih mempertahankan harga Pertalite di angka Rp10.000 per liter meski harga minyak dunia mengalami kenaikan dan nilai tukar rupiah melemah.
Kondisi itu membuat selisih antara harga jual dan harga keekonomian BBM semakin besar sehingga beban subsidi dan kompensasi energi dari negara ikut meningkat.
Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) memperkirakan harga keekonomian Pertalite saat ini berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per liter. Sementara harga keekonomian Pertamax diperkirakan mencapai Rp15.000 sampai Rp17.000 per liter.
Manager Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, mengatakan selisih harga tersebut ditanggung pemerintah melalui subsidi dan kompensasi energi.
“Selisih harga tersebut pada akhirnya menjadi beban negara melalui subsidi dan kompensasi energi yang terus meningkat,” ujar Badiul dalam keterangannya, Kamis 7 Mei 2026.
Menurutnya, tekanan terhadap APBN bisa semakin besar apabila harga minyak mentah dunia bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu lama.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media