Nasional . 13/05/2026, 21:30 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
“Indonesia memiliki modal yang cukup baik, mulai dari kebutuhan pasar, sumber daya manusia, hingga pengalaman pelaku industri,” jelasnya.
Menurut ASSI, yang dibutuhkan saat ini adalah integrasi antara industri, riset, talenta, dan kebijakan agar pengembangan industri satelit nasional berjalan secara berkelanjutan.
Meski memiliki sejarah panjang dalam industri satelit, Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait kemandirian teknologi.
Arif Satria mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya menjadi negara pertama di Asia yang mengoperasikan satelit telekomunikasi geostasioner melalui proyek Palapa Satellite Program pada tahun 1976.
Namun hingga saat ini, ketergantungan terhadap teknologi luar negeri masih sangat tinggi. Indonesia diketahui mengoperasikan enam satelit, tetapi seluruhnya belum diproduksi di dalam negeri.
Karena itu, pengembangan satelit NEO-1 dan NEI diharapkan menjadi langkah awal memperkuat ekosistem riset dan industri antariksa nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen teknologi satelit di masa depan.
Forum APSAT 2026 juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, industri, peneliti, dan regulator untuk memperkuat ekosistem satelit nasional.
ASSI menilai kehadiran berbagai pejabat seperti Kepala BRIN, Sekjen Kementerian Komunikasi dan Digital, hingga Kepala BPKN menunjukkan adanya semangat kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan teknologi digital Indonesia.
Dengan dukungan riset, inovasi, dan regulasi yang tepat, industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih kuat dan kompetitif di tingkat global. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media