UNICEF: 200 Anak Tewas akibat Serangan Israel di Lebanon Sejak 2 Maret

news.fin.co.id - 14/05/2026, 22:29 WIB

UNICEF: 200 Anak Tewas akibat Serangan Israel di Lebanon Sejak 2 Maret

UNICEF melaporkan 200 anak tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret.

fin.co.id - UNICEF melaporkan sedikitnya 200 anak tewas di Lebanon akibat serangan Israel yang terus berlangsung sejak 2 Maret. Organisasi di bawah PBB itu juga menyoroti meningkatnya trauma, pengungsian, dan ancaman kesehatan mental yang kini dihadapi anak-anak di wilayah konflik tersebut.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis, 14 Mei 2026, UNICEF menyebut anak-anak di Lebanon masih berada dalam situasi berbahaya meski gencatan senjata telah diumumkan beberapa waktu lalu.

“Anak-anak di Lebanon terus menjadi sasaran utama kekerasan, pengungsian, dan paparan peristiwa traumatis yang terus berlanjut,” kata organisasi PBB itu dalam sebuah pernyataan.

UNICEF Catat Puluhan Anak Jadi Korban dalam Sepekan Terakhir

Advertisement

UNICEF mengungkapkan bahwa sedikitnya 59 anak tewas atau terluka di Lebanon hanya dalam sepekan terakhir. Kondisi itu terjadi meskipun perjanjian gencatan senjata telah berlaku sejak 17 April.

Menurut data yang disampaikan organisasi tersebut, sebanyak 23 anak tewas dan 93 lainnya mengalami luka-luka sejak tanggal gencatan senjata diberlakukan. UNICEF menyebut angka itu sebagai peringatan serius terkait ancaman yang terus dihadapi anak-anak di Lebanon.

“Anak-anak terbunuh dan terluka ketika seharusnya mereka kembali ke kelas, bermain dengan teman-teman, dan pulih dari berbulan-bulan ketakutan dan kekacauan,” kata pernyataan itu.

Secara keseluruhan, jumlah korban anak sejak 2 Maret mencapai 200 orang meninggal dunia dan 806 lainnya terluka. Angka tersebut setara dengan hampir 14 anak menjadi korban setiap hari selama konflik berlangsung.

Ratusan Ribu Anak Lebanon Alami Trauma dan Pengungsian

Selain dampak langsung akibat bom dan serangan udara, UNICEF juga memperingatkan kondisi psikologis anak-anak Lebanon yang semakin memburuk. Organisasi itu memperkirakan sekitar 770.000 anak kini hidup dalam tekanan akibat kekerasan yang terus berulang, kehilangan anggota keluarga, serta pengungsian berkepanjangan.

UNICEF menilai kurangnya layanan kesehatan mental dan dukungan psikososial dapat memperbesar risiko gangguan mental jangka panjang bagi anak-anak korban konflik.

Lembaga tersebut mengingatkan bahwa anak-anak membutuhkan lingkungan aman dan stabil untuk memulihkan kondisi psikologis mereka setelah mengalami kekerasan dan trauma berkepanjangan.

“Hampir sebulan yang lalu, kesepakatan tercapai untuk membungkam senjata dan menghentikan kekerasan. Kenyataannya sangat berbeda. Serangan yang terus berlanjut membunuh dan melukai anak-anak, memperdalam paparan trauma mereka dan meninggalkan konsekuensi yang menghancurkan yang dapat berlangsung seumur hidup,” kata Edouard Beigbeder, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

Advertisement

Serangan Israel dan Konflik dengan Hizbullah Masih Berlanjut

UNICEF juga mendesak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk melindungi anak-anak dan mematuhi hukum humaniter internasional. Organisasi itu meminta langkah konkret dilakukan agar gencatan senjata benar-benar berjalan dan kekerasan segera dihentikan.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID