fin.co.id - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada jalan keluar militer untuk menyelesaikan persoalan yang melibatkan negaranya. Iran, kata dia, juga tidak akan menyerah terhadap tekanan maupun ancaman dari pihak mana pun.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat menghadiri pertemuan menteri luar negeri BRICS 2026 yang berlangsung di India. Dalam forum tersebut, ia menyinggung serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Fars.
Pertemuan BRICS tahun ini mengusung tema “Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan” di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu sebelum akhirnya memasuki fase gencatan senjata.
BRICS sendiri beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab (UEA), Iran, dan Indonesia.
“Sekarang harus jelas bagi semua orang bahwa Iran tidak terkalahkan dan setiap kali berada di bawah tekanan, Iran muncul lebih kuat dan lebih bersatu dari sebelumnya,” kata Araghchi.
Ia juga menekankan bahwa Iran siap mempertahankan kebebasan, kedaulatan, dan integritas wilayahnya dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, namun tetap membuka jalur diplomasi.
“Seperti yang telah berulang kali saya tekankan, tidak ada solusi militer untuk masalah apa pun yang berkaitan dengan Iran. Kami, rakyat Iran, tidak akan menyerah pada tekanan atau ancaman apa pun, tetapi kami akan merespons dengan hormat,” ucapnya.
Menurut Araghchi, angkatan bersenjata Iran juga siap memberikan balasan tegas terhadap setiap agresi asing. Meski demikian, ia menegaskan rakyat Iran tidak menginginkan perang dan tetap menjunjung perdamaian.
“Dalam situasi yang memalukan ini, kami bukanlah agresor, melainkan pihak yang dirugikan dan haknya dilanggar,” ujar Araghchi.
Situasi di kawasan Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu aksi balasan dari Teheran, termasuk penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai diberlakukan pada 8 April, meski perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen antara pihak-pihak yang bertikai.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata akan tetap berlaku tanpa batas waktu. Namun demikian, ketegangan militer dan pembatasan maritim di kawasan Teluk masih terus berlangsung, termasuk blokade angkatan laut terhadap Iran yang dipertahankan AS sejak 13 April.
Sumber: Anadolu