Nasional . 16/05/2026, 21:42 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Namun, situasi kembali memanas setelah kelompok masyarakat Lanny Jaya menolak hasil pembayaran denda adat yang dilakukan pada 6 Mei 2026.
Kelompok tersebut menilai jumlah pembayaran yang diberikan tidak sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
Penolakan itu kemudian memicu aksi penyerangan yang dilakukan melalui Jembatan Gantung Wouma atau Kali Uwe.
Dalam insiden penyerangan tersebut, Jembatan Gantung Wouma dilaporkan putus akibat kelebihan beban massa yang melintas secara bersamaan.
Peristiwa itu menyebabkan korban jiwa sekaligus memicu kemarahan kelompok masyarakat yang kemudian melakukan aksi penyerangan lanjutan dengan jumlah massa lebih besar.
“Putusnya jembatan gantung tersebut karena kelebihan beban dan mengakibatkan korban jiwa serta memicu kemarahan dari kelompok masyarakat Lanny Jaya,” ujar Made.
Situasi tersebut membuat bentrokan meluas ke sejumlah titik di wilayah Wamena.
Kapolres menjelaskan perang antarsuku kembali pecah pada 15 Mei 2026 di beberapa lokasi berbeda.
Beberapa titik bentrokan terjadi di Jalan Diponegoro dan kawasan Pasar Wouma.
Konflik tersebut menyebabkan korban meninggal dunia, korban luka berat, serta kerusakan permukiman warga.
“Terjadi juga pembakaran beberapa rumah dan honai yang merupakan wilayah permukiman masyarakat setempat di sekitar area perang suku Kali Uwe Wouma,” kata Made.
Hingga saat ini, aparat belum dapat mendata secara pasti total kerugian material akibat situasi yang masih belum sepenuhnya kondusif.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media