Pendidikan . 17/05/2026, 14:44 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Biaya kuliah yang terus naik, sulitnya mencari pekerjaan, hingga munculnya wacana penutupan jurusan kuliah yang dianggap tidak relevan dengan industri kini menjadi perbincangan panas di tengah masyarakat.
Banyak orang tua merasa pendidikan tinggi semakin berat dijangkau. Di sisi lain, para lulusan perguruan tinggi juga menghadapi kenyataan pahit bahwa ijazah tidak selalu menjamin pekerjaan yang sesuai harapan.
Situasi ini semakin memicu perdebatan setelah pemerintah menyampaikan rencana penataan ulang program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja masa depan.
Bagi banyak keluarga di Indonesia, biaya kuliah kini menjadi salah satu pengeluaran terbesar.
Mulai dari uang pangkal, UKT, biaya kos, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari mahasiswa, semuanya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Di sejumlah perguruan tinggi negeri, Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk kelompok tertentu bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah per semester.
Sementara di perguruan tinggi swasta, total biaya pendidikan dalam satu tahun dapat menyentuh ratusan juta rupiah.
Tidak sedikit orang tua yang harus menahan kebutuhan pribadi demi membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Namun masalahnya, setelah lulus, banyak mahasiswa justru kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Fenomena “kuliah mahal, kerja susah” makin sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerintah sendiri pernah mengungkap bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang bekerja sesuai jurusan kuliahnya.
Sekitar 80 persen lulusan disebut akhirnya bekerja di bidang yang berbeda dari program studi yang mereka ambil selama kuliah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media