Pendidikan . 17/05/2026, 14:44 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Akibatnya, kampus dianggap kehilangan ruang untuk berpikir mendalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara bebas.
Mahasiswa dituntut lulus cepat dan memiliki IPK tinggi, sementara dosen dibebani target administrasi dan publikasi.
Ruang diskusi kritis perlahan menyempit karena semuanya harus terlihat “produktif” secara ekonomi.
Jurusan seperti sastra, sejarah, filsafat, hingga ilmu sosial dinilai menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Karena kontribusinya tidak selalu langsung terlihat dalam angka penyerapan kerja, jurusan-jurusan tersebut sering dianggap kurang relevan dengan industri.
Padahal, banyak kemampuan penting justru lahir dari bidang humaniora, seperti:
Berpikir kritis
Empati sosial
Analisis budaya
Kemampuan komunikasi
Pemahaman sejarah
Kemampuan membaca masalah sosial
Jika ukuran utama pendidikan hanya berdasarkan kebutuhan pasar kerja jangka pendek, banyak bidang ilmu berpotensi tersingkir.
Kondisi ini juga dianggap relevan dengan isi buku The Death of Expertise karya Tom Nichols.
Nichols menjelaskan bagaimana otoritas keahlian perlahan runtuh ketika opini publik lebih dipercaya dibanding pengetahuan mendalam para ahli.
Dalam konteks pendidikan, muncul anggapan sederhana bahwa jurusan dengan tingkat pengangguran tinggi otomatis dianggap tidak berguna.
Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Dunia kerja modern kini lebih banyak mencari:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media