Nasional . 31/05/2026, 20:27 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
“Akuntabilitas dan transparansi penting diterapkan karena cukup sering publik tidak tahu Presiden berada di negara mana,” jelasnya.
Saran keempat, Dino mendorong Presiden lebih banyak menerima kunjungan kepala negara maupun pemimpin pemerintahan asing di Indonesia. Menurutnya, pendekatan tersebut selama ini juga banyak dilakukan oleh Presiden China Xi Jinping.
Sementara saran kelima adalah memberikan ruang yang lebih besar kepada Menteri Luar Negeri Sugiono untuk menjalankan misi-misi diplomatik yang bersifat teknis maupun taktis.
"Namun di sini Menlu Sugiono harus melepaskan diri sebagai bagian dari rombongan pengiring presiden yang harus selalu berada di samping Presiden," katanya.
Ia mencontohkan sejumlah mantan Menteri Luar Negeri Indonesia seperti Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, dan Retno Marsudi yang dinilainya lebih fokus menjalankan tugas diplomasi tanpa harus selalu mendampingi Presiden dalam setiap perjalanan luar negeri.
"Semuanya tidak pernah menempatkan diri sebagai bagian dari rombongan pengiring Presiden dan mereka fokus total untuk menangani politik luar negeri," papar Dino.
Di akhir pernyataannya, Dino menegaskan bahwa pandangan yang disampaikannya berangkat dari kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kondisi global saat ini dan pentingnya pengelolaan anggaran negara secara bijak.
“Dalam suasana berkumpul dan rasa waswas akibat gejolak dunia, rakyat Indonesia tidak lagi terpukau oleh kemegahan protokoler dalam dunia diplomasi,” tutupnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media