Internasional . 31/05/2026, 23:11 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Kebuntuan diplomatik antara Teheran dan Washington kembali memasuki fase krusial yang penuh ketegangan. Kepala negosiator Iran memperingatkan dengan tegas bahwa Amerika Serikat tidak dapat dipercaya pada Minggu, 31 Mei 2026.
Pihak Teheran menyatakan tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington kecuali jika hak-hak Iran sepenuhnya mendapat jaminan secara menyeluruh.
Pernyataan keras dari Mohammad Bagher Ghalibaf ini muncul tepat ketika laporan media mencuat mengenai langkah Presiden AS Donald Trump yang telah mengirimkan proposal perdamaian yang lebih keras kepada Iran. Situasi ini menggarisbawahi besarnya keretakan mendalam yang masih perlu kedua belah pihak tutup jika ingin mengakhiri konflik.
Perubahan lebih lanjut pada draf tersebut berpotensi semakin menunda kesepakatan resmi untuk menyudahi perang Timur Tengah sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Padahal, kedua negara telah melewati berminggu-minggu negosiasi yang tegang, yang mana kerap ditandai dengan retorika tajam dan sesekali peningkatan kekerasan di lapangan.
Media terkemuka The New York Times dan Axios melaporkan pada hari Sabtu, 30 Mei 2026, bahwa Donald Trump telah mengirimkan kerangka kerja baru yang "lebih keras" untuk dipertimbangkan oleh Iran, meskipun detail isi proposal tersebut masih belum jelas.
Trump menegaskan bahwa prioritas utamanya mencakup penghentian Iran dari pengembangan senjata nuklir apa pun serta membuka kembali jalur pelayaran Hormuz, yang telah diupayakan Iran untuk dikendalikan sejak perang dimulai.
"Satu-satunya jaminan yang harus saya miliki adalah bahwa tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik," kata Trump kepada menantunya, Lara Trump, dalam sebuah wawancara di acara Fox News-nya.
Namun, pihak Teheran langsung meragukan klaim sepihak dari Trump tersebut. Melalui tayangan televisi pemerintah, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan posisi negaranya yang tidak akan tunduk pada tekanan AS begitu saja.
“Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan,” kata Ghalibaf dalam video tersebut.
Berdasarkan laporan dari kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara Iran, interaksi diplomasi antar-kedua negara saat ini masih dinamis namun sangat rapuh. Berikut poin penting terkait perkembangan dokumen kerja tersebut:
Meskipun serangan harian di seluruh wilayah Iran dan kawasan Teluk sempat terhenti setelah Teheran dan Washington mencapai gencatan senjata sementara pada bulan April lewat mediasi Pakistan, pertempuran sporadis nyatanya terus meletus. Hubungan kedua negara semakin panas akibat beberapa insiden militer di zona perbatasan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media