MRT Jakarta Raup Rp1,5 Triliun dalam Setahun!

news.fin.co.id - 04/06/2026, 13:46 WIB

MRT Jakarta Raup Rp1,5 Triliun dalam Setahun!

Waste station MRT Blok M hadirkan solusi pilah sampah dengan insentif digital, dorong kebiasaan ramah lingkungan di ruang publik. Foto: ANTARA/ Fauzan.

fin.co.id - PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatat pendapatan sebesar Rp1,5 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat sekitar tujuh persen dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya, mencerminkan pertumbuhan positif kinerja perusahaan di sektor transportasi publik.

Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta, Risa Olivia, mengatakan peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh bertambahnya jumlah pengguna layanan MRT serta berkembangnya kontribusi dari sektor usaha non-tiket.

"Pendapatan pada 2025 mencapai Rp1,5 triliun dengan pertumbuhan sekitar tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) Risa Olivia saat dikonfirmasi di Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurut Risa, pendapatan dari penjualan tiket atau farebox terus menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sejak 2021. Kondisi tersebut menjadi indikator semakin besarnya minat masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum, khususnya MRT Jakarta.

Advertisement

Selama periode 2021 hingga 2025, total pendapatan perusahaan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,3 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh berbagai sumber pemasukan, mulai dari pendapatan tiket, dukungan subsidi pemerintah, hingga pendapatan non-farebox.

Sementara itu, pendapatan dari sektor farebox mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dengan CAGR mencapai 50,4 persen dalam kurun waktu yang sama. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan jumlah pengguna MRT yang cukup signifikan dari tahun ke tahun.

"Semakin banyak yang menggunakan MRT, nantinya pendapatan tiket bisa semakin meningkat," ujar Risa.

Di tengah pertumbuhan tersebut, dukungan pemerintah melalui mekanisme subsidi masih menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan operasional perusahaan. Skema tersebut dinilai berperan dalam memastikan kualitas layanan tetap terjaga sekaligus mempertahankan tarif yang terjangkau bagi masyarakat.

Risa menjelaskan bahwa stabilitas kinerja operasional perusahaan juga terlihat dari capaian EBITDA margin yang berada pada kisaran 35 hingga 51 persen dalam beberapa tahun terakhir. Indikator tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasional yang relatif baik sebelum memperhitungkan bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

"Kinerja operasional perusahaan relatif terjaga dan cukup stabil dalam jangka panjang," tutur Risa.

Hingga 2025, total aset yang dimiliki MRT Jakarta telah mencapai sekitar Rp32 triliun. Sebagian besar aset tersebut berasal dari investasi pembangunan infrastruktur transportasi, termasuk jalur kereta dan stasiun MRT yang telah beroperasi.

Lebih lanjut, Risa menilai prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan masih cukup kuat. Hal itu tercermin dari tren peningkatan pendapatan yang berkelanjutan serta kemampuan perusahaan mempertahankan margin EBITDA di atas 35 persen meskipun menghadapi berbagai tantangan eksternal.

Di sisi lain, Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud, menyebut perusahaan terus memperluas sumber pendapatan di luar sektor tiket. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan kawasan berbasis transit dan optimalisasi area komersial yang berada di sekitar jaringan MRT.

Advertisement

Salah satu fokus pengembangan saat ini adalah kawasan Blok M Hub yang telah menampung sekitar 375 tenant dari berbagai sektor usaha.

"Kami terus mengoptimalkan area komersial dan pengembangan kawasan transit untuk memperkuat pendapatan non-tiket," ungkap Farchad.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID