fin.co.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, meskipun sempat bergerak menguat pada sesi sebelumnya. IHSG ditutup di level 5.941,06 atau turun 4,11 persen, dengan tekanan terbesar berasal dari saham-saham sektor basic materials dan energi yang masing-masing melemah 9,05 persen dan 5,61 persen.
Berdasarkan data MNC Sekuritas, salah satu faktor utama yang membebani pergerakan pasar saham adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memicu sentimen negatif yang berdampak pada pergerakan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada. Menurutnya, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi oleh melemahnya rupiah yang telah mencapai level Rp17.900 per dolar AS, ditambah perkembangan terbaru terkait penilaian kredit terhadap Danantara Investment Management.
"Sentimen negatif disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menyentuh level Rp 17.900 per dolar AS dan dari laporan terbaru Moody's Ratings yang untuk pertama kalinya memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management," jelas Priyambada kepada Disway Group, Kamis, 4 Juni 2026.
Dari sisi teknikal, candle terakhir IHSG membentuk pola black spinning top dan masih berada di bawah garis rata-rata pergerakan MA5. Sementara itu, indikator stochastic menunjukkan dead cross pada area deep oversold yang mengindikasikan tekanan jual masih cukup kuat.
Dengan kondisi tersebut, Reliance Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, masih berpotensi mengalami pelemahan.
"Kami memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran support pada level 5,883 dan resistance pada level 6,012 dengan kecenderungan melemah," ujar Priyambada.
Di tengah tekanan pasar, analis tetap melihat sejumlah saham yang memiliki peluang menarik untuk dicermati investor. Empat saham yang direkomendasikan meliputi MEDC, ENRG, PWON, dan SMRA.
Saham MEDC dinilai masih memiliki prospek positif karena pergerakan harga masih berada di atas MA5. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia diperkirakan menjadi katalis yang mendukung pergerakan saham emiten energi tersebut. Indikator stochastic juga menunjukkan golden cross pada area deep oversold yang mengindikasikan potensi penguatan.
Sementara itu, saham ENRG dinilai menarik setelah membentuk pola white spinning top yang sering dianggap sebagai sinyal pembalikan arah. Posisi harga yang mendekati MA5 serta munculnya golden cross pada area oversold turut memperkuat peluang kenaikan.
Untuk sektor properti, PWON masuk dalam daftar rekomendasi meskipun harga sahamnya masih berada di bawah MA5. Analis menilai pola doji yang terbentuk pada perdagangan terakhir mengindikasikan peluang rebound dalam waktu dekat.
Adapun SMRA juga direkomendasikan karena membentuk pola hammer yang sering diartikan sebagai sinyal pembalikan arah ke tren naik. Ditambah lagi, indikator stochastic menunjukkan golden cross pada area deep oversold yang mengindikasikan potensi penguatan harga.
Keempat saham tersebut dinilai layak masuk radar pemantauan investor yang mencari peluang di tengah volatilitas pasar. Meski demikian, investor tetap disarankan memperhatikan level support dan resistance serta menerapkan manajemen risiko yang disiplin sebelum mengambil keputusan investasi.