fin.co.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan melibatkan Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) sebagai penggerak edukasi pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mempercepat tercapainya target pengelolaan sampah yang berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan mengatakan para petugas PJLP memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan warga dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, mereka diharapkan tidak hanya menjalankan tugas operasional, tetapi juga berperan sebagai penyampai informasi dan edukasi terkait pengelolaan sampah.
"PJLP memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, para petugas tidak hanya menjalankan tugas pokoknya masing-masing, tetapi juga diharapkan mampu menjadi ujung tombak edukasi lingkungan, khususnya terkait pentingnya memilah sampah sejak dari rumah tangga," kata Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan saat memberikan arahan dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah yang diikuti ratusan PJLP di Lapangan Voli Pulau Kelapa, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Fadjar, upaya tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat penerapan pemilahan sampah secara menyeluruh sekaligus mendukung program pengelolaan sampah berkelanjutan yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ia menilai kegiatan sosialisasi yang diberikan kepada para PJLP dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar.
Kegiatan tersebut melibatkan ratusan PJLP dari berbagai unsur di lingkungan Pemkab Kepulauan Seribu, mulai dari Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), Suku Dinas Lingkungan Hidup, Suku Dinas Sumber Daya Air, petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan (Gulkarmat), Suku Dinas Perhubungan, Satpol PP, UKT 1, UKT 2, pengelola RPTRA, tenaga kesehatan, hingga unsur kelurahan dan kecamatan.
Fadjar menjelaskan bahwa program pemilahan sampah dari sumber merupakan salah satu agenda prioritas yang terus didorong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang dibuat, melainkan juga oleh konsistensi pelaksanaannya di tengah masyarakat.
Saat ini, tingkat pemilahan sampah dari sumber di wilayah Kepulauan Seribu telah mencapai sekitar 71 persen. Capaian tersebut dinilai cukup menggembirakan, meskipun pemerintah daerah masih berupaya meningkatkan angka tersebut hingga mencapai target penuh di seluruh wilayah.
Keberhasilan program ini, lanjut Fadjar, dapat diukur dari kemampuan masing-masing wilayah dalam mengelola sampah yang dihasilkan tanpa harus mengirimkannya ke daratan. Semakin besar volume sampah yang dapat diolah secara mandiri di tingkat lokal, semakin efektif pula sistem pengelolaan yang diterapkan.
Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, pengelolaan sampah yang baik juga memiliki nilai ekonomi. Melalui penerapan konsep ekonomi sirkular, sampah yang telah dipilah dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dapat didaur ulang untuk menghasilkan keuntungan ekonomi, sementara sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos yang berguna untuk kegiatan pertanian, penghijauan, maupun kebutuhan lingkungan lainnya.
Pemkab Kepulauan Seribu meyakini bahwa pengelolaan sampah yang optimal tidak hanya membantu menjaga kebersihan wilayah, tetapi juga mendukung sektor pariwisata yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah. Lingkungan yang bersih dan terjaga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik wisata serta memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Seribu.