Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Bisa Rampung dalam Dua Hari, Mungkinkah Terwujud?

news.fin.co.id - 09/06/2026, 21:28 WIB

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Bisa Rampung dalam Dua Hari, Mungkinkah Terwujud?

Donald Trump klaim AS dan Iran bisa teken kesepakatan damai dalam 2-3 hari ke depan.

fin.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membawa kabar mengejutkan terkait ketegangan di Timur Tengah. Ia menyatakan bahwa AS dan Iran berpeluang besar menandatangani kesepakatan damai dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Pernyataan optimistis ini langsung keluar dari mulut Trump saat berbicara di hadapan para kuli tinta, Selasa, 9 Juni 2026. Menurut sang presiden, proses perundingan kini sudah menyentuh garis finis dan membawa angin segar bagi stabilitas dunia, termasuk jaminan keamanan jalur maritim internasional.

“Kami berada pada tahap akhir dari apa yang akan menjadi kesepakatan yang sangat, sangat baik yang tidak akan memungkinkan (Iran) memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun. Dan selat itu (Hormuz) akan dibuka kembali segera. Selat itu akan dibuka segera setelah penandatanganan, yang bisa terjadi dalam dua atau tiga hari,” kata Trump kepada para wartawan.

Ketika sejumlah jurnalis mencoba mempertegas kembali batas waktu tersebut, Trump dengan percaya diri mengulangi ucapannya. Ia menekankan bahwa perdamaian ini akan terjadi dalam hitungan "dua atau tiga hari", dan bukan dalam hitungan minggu.

Advertisement

“Kami memiliki peluang yang baik untuk mewujudkannya. Sejujurnya, kami seharusnya bisa menyelesaikannya dalam satu jam jika memang mau. Saya pikir kami sangat dekat dengan kesepakatan yang sangat baik, kuat, dan penting,” tambah presiden AS tersebut.

Menengok Kembali Kronologi Konflik Sengit AS-Iran

Jika kita melihat ke belakang, hubungan kedua negara ini sempat berada di titik nadir yang sangat mengkhawatirkan. Pada 28 Februari lalu, militer AS dan Israel meluncurkan operasi serangan bersama ke sejumlah titik vital di wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan udara masif tersebut tidak hanya memicu kerusakan infrastruktur, tetapi juga menelan korban dari kalangan warga sipil.

Tak tinggal diam, pihak Iran langsung melancarkan aksi balasan. Teheran menggempur balik wilayah teritorial Israel serta menargetkan berbagai pos dan fasilitas militer milik Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

Gelombang saling serang ini baru mereda setelah Washington dan Teheran sepakat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Meski tensi sempat mendingin, jalan menuju perdamaian sejati terbilang berliku. Pertemuan lanjutan yang sempat terlaksana di Islamabad, Pakistan, bahkan sempat buntu dan berakhir tanpa menghasilkan terobosan berarti bagi kedua belah pihak.

Fokus Rancangan Memorandum dan Pembukaan Selat Hormuz

Saat ini, utusan dari Iran dan AS masih terus menggodok proses negosiasi di meja perundingan. Otoritas kedua negara memfokuskan diplomasi terbaru ini pada penyelesaian draf memorandum kesepahaman yang akan menjadi fondasi utama pakta perdamaian.

Namun, situasi di lapangan sebenarnya masih cukup abu-abu. Sembari berdialog, kedua belah pihak faktanya masih sesekali terlibat saling melancarkan aksi serangan terbatas secara terpisah di luar meja diplomasi.

Meskipun demikian, klaim sepihak dari Donald Trump ini menjadi harapan baru bagi dunia. Jika perjanjian ini benar-benar terwujud dalam beberapa hari ke depan, pembukaan kembali Selat Hormuz tentu akan menjadi solusi besar bagi kelancaran arus logistik dan pasokan energi global yang sempat tersendat akibat konflik.

Advertisement
Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID