Napi Lapas Warungkiara Kelola Kebun dan Peternakan, Hasil Dipasarkan hingga Bandung dan Tangerang

news.fin.co.id - 10/06/2026, 12:43 WIB

Napi Lapas Warungkiara Kelola Kebun dan Peternakan, Hasil Dipasarkan hingga Bandung dan Tangerang

Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan melalui sektor pertanian dan peternakan.

fin.co.id - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan melalui sektor pertanian dan peternakan. Puluhan hektare lahan yang dimiliki lapas dimanfaatkan untuk budidaya berbagai komoditas pangan serta pengembangan usaha peternakan.

Sejumlah warga binaan terlihat aktif merawat tanaman di area perkebunan lapas. Mereka tampak menyiram tanaman sambil membawa ember dan mengenakan caping untuk melindungi diri dari panas matahari.

Beragam jenis tanaman dibudidayakan di kawasan ini, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Bahkan, area di sekitar dinding teralis lapas dimanfaatkan sebagai media tanam gantung untuk komoditas caisim.

Lapas Warungkiara Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Produktif, Panen Melon hingga Kembangkan Ribuan Pohon Pisang Raja Bulu

Advertisement

Kalapas Kelas IIA Warungkiara Kurnia Panji Pamekas kepada wartawan di Sukabumi, Jawa Barat, Selasa, 9 Juni 2026.

Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kurnia Panji Pamekas mengatakan, program pertanian dan peternakan yang dijalankan tidak hanya bertujuan mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan.

"Untuk hasil yang kita dapat dari hasil yang ada di Lapas Warungkiara ini, Alhamdulillah bisa mencukupi. Karena program pemerintah juga dalam hal ini Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan adalah 5 persen untuk masuk ke Bama (bahan makanan). Jadi kita coba untuk masukkan dan kita kelola, hasilnya bisa dinikmati oleh warga binaan yang ada di Lapas Kelas II Warungkiara," kata Panji kepada wartawan, Selasa, 9 Juni 2026.

Menurutnya, sebagian hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga binaan. Sementara hasil produksi yang berlebih dipasarkan melalui pengepul dan didistribusikan ke sejumlah pasar induk.

"Nah, hasil produksi yang dihasilkan dari perkebunan ini itu dijual ke pasar dan sudah ada apa namanya pengepulnya. Jadi, hasil ini kita arahkan ke sana, dari sana nanti kita jual ke pasar. Dan dalam hal ini udah Pasar Induk Bandung, juga Pasar Induk Tangerang," jelasnya.

Selain memberikan manfaat ekonomi bagi lapas, program tersebut juga berdampak langsung kepada warga binaan yang terlibat dalam pengelolaannya. Mereka memperoleh premi dari hasil produksi yang nantinya disimpan sebagai tabungan dan dapat digunakan setelah bebas menjalani masa pidana.

"Nah, dari hasil ini juga, mereka sudah jelas mendapatkan premi. Dan premi ini kita tabungkan untuk nanti bekal dia ketika bebas," ujarnya.

Tak hanya mengembangkan sektor pertanian, Lapas Warungkiara juga mengelola berbagai jenis peternakan. Saat ini terdapat sekitar 350 ekor sapi penggemukan, 10 ekor kambing, 400 ayam petelur, 600 ayam kampung, serta puluhan ekor bebek dan mentok.

Untuk sektor perkebunan, lapas membudidayakan sejumlah tanaman buah seperti pisang, melon, anggur, pepaya, dan nanas. Sementara komoditas sayuran yang ditanam antara lain pakcoy, caisim, kangkung, terong bulat, terong ungu, cabai rawit, cabai hijau, seledri, daun bawang, kacang panjang, hingga timun.

Advertisement

Program ini menjadi salah satu bentuk pembinaan produktif yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang dapat dimanfaatkan saat kembali ke masyarakat.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID