Menag Ajak Umat Jadikan Tahun Baru Hijriah sebagai Momentum Perubahan Diri dan Masyarakat

news.fin.co.id - 16/06/2026, 21:49 WIB

Menag Ajak Umat Jadikan Tahun Baru Hijriah sebagai Momentum Perubahan Diri dan Masyarakat

Menag Nasaruddin Umar mengajak umat menjaga kedamaian, persatuan, dan harmoni di Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus 2026.

fin.co.id - Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengajak umat Islam menjadikan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam sebagai momentum untuk melakukan pembaruan diri sekaligus memperkuat kehidupan sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, makna hijrah tidak hanya terbatas pada perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah merupakan proses perubahan mendasar dalam tatanan kehidupan masyarakat, dari pola pikir yang berorientasi pada kelompok dan kesukuan menuju masyarakat yang lebih terbuka, beradab, serta mengutamakan kemaslahatan bersama.

"Hijrah bukan hanya perpindahan fisik Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang dan visi bersama," ujar Menag saat memberi sambutan pada peringatan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal dikutip, Selasa, 15 Juni 2026.

Nasaruddin menjelaskan bahwa sebelum datangnya Islam, kehidupan masyarakat Arab banyak dipengaruhi sistem kabilah yang menitikberatkan hubungan darah dan kesukuan. Kehadiran Rasulullah SAW kemudian membawa konsep umat, yakni sebuah komunitas yang mampu melampaui sekat-sekat suku, ras, maupun golongan.

Advertisement

Ia menguraikan bahwa terdapat perbedaan mendasar di antara berbagai bentuk komunitas sosial. Kabilah terbentuk karena ikatan keturunan, sya'abun berlandaskan hubungan keluarga besar, qawmun lahir dari kesepakatan sosial dalam suatu organisasi, sedangkan hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik.

Sementara itu, umat merupakan komunitas yang dibangun atas empat fondasi utama, yakni kasih sayang, visi masa depan, kepemimpinan yang dihormati, serta masyarakat yang santun dan patuh dalam satu sistem kepemimpinan atau imamah.

"Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat," tegasnya.

Di hadapan para jamaah, Menag mengajak masyarakat melakukan introspeksi terhadap kondisi sosial yang berkembang saat ini.

"Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Islam Indonesia sudah bisa disebut umat? Atau kita masih terjebak dalam mentalitas kabilah, hizbun, kedaerahan, dan kelompok sendiri-sendiri?" katanya.

Ia menilai, salah satu ciri masyarakat yang masih terjebak dalam pola pikir kabilah adalah tertutupnya akses kepemimpinan bagi individu di luar kelompok tertentu. Sebaliknya, konsep umat memberikan kesempatan yang sama bagi siapa pun yang memiliki kemampuan dan memperoleh kepercayaan masyarakat, tanpa memandang asal-usul maupun jenis kelamin.

Meskipun demikian, keterbukaan tersebut harus dibarengi dengan penguatan persatuan, solidaritas, dan kepedulian sosial agar masyarakat benar-benar tumbuh menjadi umat yang kuat dan berdaya.

Karena itu, Menag mengajak seluruh umat Islam memanfaatkan momentum Tahun Baru Hijriah untuk meninggalkan sikap eksklusif yang hanya mengutamakan kelompok tertentu, serta mempererat semangat persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

"Semoga komunitas Islam Indonesia sudah layak untuk kita sebut sebagai umat, komunitas sejati. Inilah hakikat hijrah yang sesungguhnya," pungkasnya.

Advertisement

M Purwadi/Disway

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID